Rabu, 25 April 2012

Niari Jiara Langit


Niari Jiara Langit, Pun Anak.


Nepangkeun pun anak, nu kahji nu kahiji. Wastana Niari Jiara Langit. Lahir di Bandung, 17 Maret 2012. 

Rabu, 26 Januari 2011

Sajak Sunda



Cibeber Kuring

langitna rek hujan
di Cibeber kuring
ka mana panon poe
sorangan kuring cicing
di tungtung panglamunan
Cibeber lemah cai

2009

Murag

aya nu murag di buruan imah
ngalayang nepi ka taneuh
kalakay, enya kalakay nu kamari
sanggeus ngarasaan hirup ahirna murag oge
manusa, ka mana urang bakal murag
naraka, sorga
kari urang panceg Na galurna

Rabu, 29 September 2010

Kulawarga TjomrohaneutZine


Dimimitian taun 2002 di kampus Universitas Pendidikan Indonesia Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah Tjomrohaneut Media gubrak ka alam dunya. Kaayeunakeun ieu media kulantaran geus jarang paamprok jeung babaturan jadi kana media dunia maya. Tapi najan kitu ge, moal poho masih keneh sok medalkeun dina edisi fotokopianana. Tjomrohaneut Media robih jadi TjomrohaneutZine alatan budaya anu sok ngadamel buletin samodel kieu teh disebatna zine. Nya teu nanaonlah nu penting teu matak nanaon kana basa Sunda eta sorangan.

Selasa, 28 September 2010

Ranca Buaya

Basisir Laut Kidul

Jumat, 24 September 2010

Cerita Pendek


Mencari Anak
Syarief Hidayat
Tak terasa hari begitu cepat berganti, akhirnya matahari siap untuk bekerja menyinari desa yang kini aku tinggali, ya...Kampung Cisalak Tengah. Aku sendiri aneh aku hijrah dari kota yang dijuluki kota Kembang ke kota yang sering terdengar dengan penghasil berasnya yang melimpah banyak. Di tahun 2008 semenjak kepindahanku dari kota Kembang yang kini julukan itu hampir saja tak enak untuk diucapkan alasan karena Bandung tak cantik seperti dulu lagi. Aku kini bekerja di sebuah sekolah di kecamatan. Kecamatan itu bernama Cibeber. Kesibukanku tentunya banyak dihabiskan dengan anak-anak di kelas dan di hari sabtu di luar kelas. Akhirnya hampir setahun aku menikmati indahnya pemandangan Cibeber yang aku sendiri tak pernah menyadari, atau bahkan berniat untuk tinggal di sini. Mungkin ini yang dinamakan dengan jalan hidup yang aku harus jalani. Hari ini, hari senin tak terasa waktu cepat secepat membalikkan telapak tangan. Kesibukan di sekolah begitu terlihat karena kelas IX telah usai melaksanakan Ujian Nasional. Seusai Ujian Nasional aku lekas berangkat ke Bandung untuk menemui kekasih tercinta, dan ya...namanya pertemuan perpisahan pun sangat cepat. Akhirnya ku pulang ke Cianjur pada hari Minggunya.
Pulang sekolah sekitar jam dua belas lebih lima puluh lima menit. Pulang ke rumah aku melihat pohon besar yang berdiri tegak berada di depan rumah kakakku, di atasnya telah berdiri dua orang yang sedang menebang dahan-dahan yang kecilnya yang menghalangi rumah tetanggaku. Aku baru sadar, bahwa beberapa hari terakhir ini di atas pohon yang berdiri tegak 900 di hadapan rumah kakakku itu telah berpenghuni beberapa keluarga kecil yang akan mewujudkan cita-citanya kelak dan juga menerus perjuangan hidup di dunia ini. Terjadi pembicaraan yang serius bahwa para penebang pohon telah menemukan beberapa sarang yang di sana telah ada telur yang belum menetas dan juga banyak anak-anak burung yang telah ditinggal induk burungnya untuk mencari makanan.
Sore pun tiba, saat-saat yang menyedihkan pun aku saksikan, beberapa induk burung berterbangan di atas pohon yang telah ditebang separuh itu. Ke mana anak-anakku...mungkin itu adalah terikan yang aku dengar dengan suara batin yang aku saksikan betapa berat beban yang telah dirasakan oleh beberapa induk burung yang senantiasa merasa tak terpikirkan bahwa akan kehilangan harta yang ia miliki selama ini.
Bukan uang, bukan perhiasan tetapi keharmonisan keluarga kecil yang akan meneruskan perjuangannya di muka bumi ini. Ke mana mencari anak.....ke mana...ya mungkin beribu kemungkinan tak akan terjadi karena semuanya telah berubah seusai pohon ditebang sebelah......anak adalah warisan yang tak ternilai harganya...anak adalah cita-cita...anak adalah impian keluarga..... aku merasakan lelahnya induk burung setelah mencari makanan untuk anak-anaknya, dan pas waktunya tiba untuk memberikan makanan ke mana harus mengadu, ke mana harus mencari anak-anak yang sedang membutuhkan makanan dengan segera.....
Malam mulai menjadi....suara adzan telah membawa kesedihanku menyaksikan satu, dua keluarga telah hilang...berpisah untuk selamanya..aku telah merasakan bagaimana rasanya berpisah dengan bapakku ketika tahun 2004 bapakku telah dipanggil oleh yang Maha Kuasa.
Maghrib telah kulewati dengan wudhu yang suci dan sholat yang khusyu, tapi tetap bayangan itu masih merekam beberapa induk berterbangan mencari anak, mencari sarang, mencari keluarganya yang hilang...Ya..Allah apa yang sebenarnya telah terjadi, apa dosa burung-burung yang ingin hidup bebas, dalam lirik lagu sering kita dengar terbang sebebas burung di langit ternyata apa? Kehidupan burung telah terusik oleh kebebasan manusia yang tak bisa hidup berbarengan. Memang kehidupan di dunia, hanya tugas yang harus kita jalankan, tapi apakah ini semua itu adil? Jika kita melihat lebih jauh, masih banyak cerita-cerita tentang penggusuran yang sangat memprihatinkan kita semua......aku ingin berteriak bebas dan lepas.....apakah artinya hidup jika masih terkekang oleh aturan-aturan yang tak memihak kepada keadilan yang suci....keutuhan keluarga adalah nomor satu mencapai kebahagian yang diidam-idamkan, hilanglah hijau depan rumah kakakku..hilanglah suara-suara yang harmoni di pagi menemaniku mempersiapkan Vespa ’94 untuk beraktifitas. Mungkin doaku sampai secepat cahaya menuju tujuan yang dituju. Ya Allah berikanku kekuatan sekuat angin malam menembus dunia malam dalam mengarungi hidup di dunia ini....masih seakan tiap detik, menit, dan jam ingatan yang menyayat ke batu nisan bahwa kehilangan itu sakit, pedih...dan satu pertanyaan terlempar ke angkasa....ke mana anak-anakku.........ke mana harus mencarinya.......mencari...cari....mencari anak.....anak.....anak...


Penulis adalah pegiat buletin TjomrohaneutZine dari tahun 2003,
kini tinggal di Desa Cisalak Cibeber.

Selasa, 23 Februari 2010

Senin, 22 Februari 2010

TjomrohaneutZine



ah gambar we.......

Rabu, 17 Februari 2010

Mieling Poe Basa Indung Internasional



Sakur basa nu nu dipake di alam dunya, tangtu eta teh geus bisa nganteurkeun manusa dina teu nyaho jadi ngarti tah...pokona mah Wilujeng Poe Basa Indung Internasional we....

Hatur nuhun ka sakumna siswa-siswi SMP Negeri 1 Cibeber sareng sadayana nu tyos ngarojong kana ieu kagiatan...hurip Sunda..Wilujeng pateupang di Poetjoek Soenda 2011....Cag

Rabu, 03 Februari 2010

sajak Sunda























GURAT JANARI

na galur waktu kuring ngalayang, ngudag ku haté kayakinan
hanjat tina tibra nu panjang

impian-impian nu can anggeus mo bisa dituluykeun
malah ngan nepi ka implengan

angin batur kuring nalika hudhu
cai mangsi pikeun nulis peuting
marengan peuting aya janari
ku takbir kuring tunduk, husyu ngawurkeun du’a
dipungkas salam janari kagurat

séptémber 2007


Keur Manéhna
pangnyimpeunkeun peuting na salambar kertas, sangkan kuring bisa nineung paripolah manéhna
nyari seurina tuluy kaimpleng na walungan ingetan

séptémber 2007


Di pipir kosan
haturan Rizal Sabda

ngariung di pipir kosan, nyarita panjang tur lila
manjangkeun carita nambah kopi jeung udud

ngariung di pipir kosan, haseup kumalayang
dibalur cakakak jeung cakakak

ngariung di pipir kosan, tan wates
dulur raket lain ku getih jeung daging

ngariung di pipir kosan, kabungah lain nu sorangan
kasusah pék palidkeun sing tenang

ngariung di pipir kosan, ukur panineungan
pancén ahir, lain ku pinter, atawa belet
tapi ku getol nyambungkeun pamanggih batur jeung urang
piknik ti buku ka buku, plesir ti tiori ka tiori

di pipir kosan, hiji drama nu geus digelarkeun

séptémber 2007

abstrak skripsi


STRUKTUR JEUNG AJÉN ÉSTÉTIKA NASKAH DRAMA
HARÉWOS GOIB KARYA YOSÉPH ISKANDAR1)

Syarief Hidayat2)

ABSTRAK


Skripsi ini berjudul Struktur jeung Ajén Éstétika Naskah Drama ‘Haréwos Goib’ karya Yoséph Iskandar, merupakan suatu kajian tentang struktur dan estetika terhadap naskah drama Sunda. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji unsur drama, struktur dramatik, dan aspek estetika yang terdapat dalam naskah drama Haréwos Goib.
Permasalahan dirumuskan pada: 1) Bagaimana unsur cerita drama Haréwos Goib? 2) Bagaimana struktur dramatik naskah Haréwos Goib ? 3) Nilai estetika apa yang ada pada naskah drama Haréwos Goib ?
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif sedangkan tehnik yang digunakan ialah telaah pustaka dan analisis teks. Populasi penelitian ini adalah naskah drama Haréwos Goib karya Yoseph Iskandar. Dan sebagai sampel adalah teks naskah drama Haréwos Goib.
Terkait dengan hasil penelitian ini, diperoleh kesimpulan bahwa naskah drama yang berjudul Haréwos Goib karya Yoseph Iskandar memiliki tema kekuasaan. Tokoh utama dalam cerita ini adalah Opang atau Kopral, dan beberapa tokoh pelengkap. Di antaranya; Kanjeng Dalem, Ulis, Demang, dan Patinggi.
Unsur drama yang ada yaitu: téma, alur atau plot, pelaku atau penokohan, karakter pelaku, dan latar atau setting. Struktur dramatik yang ada dalam drama yaitu: eksposisi, komplikasi, klimaks, resolusi, dan konklusi. Nilai estetika yang terdapat dalam naskah tersebut adalah fungsi puitik bahasa, inheren dalam struktur karya sastra, konvensi dalam karya individual, mimesis dan kreasi atau kenyataan dan alternatif, situasi pembaca sebagai sumber tegangan, serta penulis dan karyanya dalam penghayatan pembaca. Hasil penelitian menunjukkan banyaknya paribasa Sunda pada naskah drama Haréwos Goib. Paribasa tersebut diungkapkan oleh beberapa tokoh. Ditemukan pula kosa kata bahasa Sunda yang arkais yang sudah jarang dipakai oleh penuturnya sendiri.
Pengarang naskah drama telah berhasil melahirkan sebuah karya untuk kemajuan drama. Naskah drama Haréwos Goib ini merupakan naskah yang ditampilkan pada penutupan Festival Drama Basa Sunda IX, yang disaksikan oleh masyarakat teater se-Jawa Barat.


1) Skripsi ini di bawah bimbingan Dr. Ruhaliah, M. Hum.
dan Drs. Ano Karsana, M. Pd.
2) Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Daérah
Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni
Universitas Pendidikan Indonesia

Ngudag Onta [carita pondok]


Budalan ogé kuliah, rada tunduh karasa pisan. Sabenerna tadi kuliah téh soalna rada lieur ogé masualkeun ngeunaan kaéndahan lamun teu jeung barangna atawa udagan anu nyampak. Pa Agus, dosén éstetika alus ogé nerangkeun panganteur éstétika Ahmad ogé jadi rada ngarti najan saeutik, pan cenah ceuk Pa Yayat ogé dosén mata kuliah Wacana, anu saeutik éta anu matak matil téh tur ngégél. Tapi angger Ahmad tadi di kelas leuleungutan aya ku ni’matna kabayang Ahmad leuleungutan lamun keur akad nikah sigana kawin téh moal jadi.
Budalan kuliah barudak bangun anu bungah. Aya anu heureuy nepika silih babuk jeung silih tonjok, aya anu silih poyok aran indung bapana padahal indung bapana di lembur teuing keur naon éh ieu kalah silih poyok, aya anu neruskeun ngasmsna, aya anu neruskeun nagih hutangna, aya rék balik ka kampung tapi béda jeung Ahmad boga rencana anu béda jeung babaturan. Ahmad kuliah di Jurusan Bahasa Daérah Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan Indonesia. Ayeuna geus séméster tujuh. Jangkungna 177cm, kulitna bodas, buukna euweuhan da unggal dua bulan sakali sok rajin dicukur di daérah terminal Ledeng. Aya anu matak ngabédakeun manéhna jeung mahasiswa basa Sunda lianna pangpangna mahasiswa lalaki. Mun disidik-sidik manéhna ngabogaan jénggot anu panjangna kurang leuwih 3 incian mah aya. Teu bisa mastikeun lantaran samet ayeuna can kungsi ngukur éta jénggot. Ahmad poé kamis ayeuna katingali anu leuleus.
“ Mad, Lotté?” Aji, salah sahiji babaturanana kelasna ngahaja ngadeukeutan nawarkeun permén karét.
“ Nuju syaum?” waleran Ahmad sakaligus ngareuwaskeun Aji.
“ Aduh.. punten Mad, dupi ayeuna dinten..kemis nya. Hébatlah Ahmad mah tos syaum, padahal bulan romadon lami kénéh.“
“Ih ..sanés hébat, tapi maksakeun ieu gé. Da ari teu dipaksa kieu mah maol tangtu pareng.”
“Oh.. anu keyeng tangtu parengnya?”
“Sabenerna abdi ogé isin ari syaum téh?”
“Naha! isin kumaha Mad? Aji janten teu ngartos?”
“Muhun Ahmad sok mahiwal sorangan, batur mah teu syaum ari Ahmad nyalira syaum.”
“Éh..ari Ahmad sanés anu kitu téh saé?” Aji beuki panasaran.
“Muhun ari kahoyong mah sadaya réréncangan kuring di kelas téh tiasa siga Ahmad, syaum unggal senén sareng kemis. Jadi Ahmad ngalira teu mahiwal. Ahmad mah syaum, ari réréncangan teu syaum. Ahmad jadi isin téh.”
“Atuh lamun kitu mah sanés ti kapungkur, Aji ogé lamun diajak syaum mah hayu-hayu waé. Da muhun ari mahiwal sareng nu sanés ari ogé ngartos kana kituna. Tapi sigana éngké sasih syaum mah Ahmad moal isinnya?”
“Éh.. Ji, dupi éngké wengi moal mulih ka Pasir Koja?”
“Moal, .. kaleresan badé mondok di Geger Arum di réréncangan SMA, soalna tos lami hoyong tepang, émang.. badé aya naon?”
“Ah isin?”
“Teu kedah isin?”
“Muhun hoyong ngajak Aji ka DT(Daarut Tauhid) kanggo ngadangukeun ceramah KH. Abdulah Gymnastiar, wengi ayeuna?”
“Insya Alloh nya?, éta ogé upami..”
“Éh muhunnya, kan Aji badé ka réréncangan téa, sareng deui tos lami pisan teu acan tepang. Kumaha atuh lamun urang solat tahajud berjamah wengina tiasa?”
Aduh Aji bangun anu diasongan péso, éta pé rék disogokeun kana tikorona. Pisurgaeun éta ajakan. Lir ibarat saf panghareupna di masjid. Ahmad tangtu aya di jajaran panghareupna. Ceuk kiai apan ari saf panghareupna téh sarua jeung onta… ehm kayungyung. Kumaha ari saf pangtukangna sigana éta mah ngan meunang hayam, ah lain hayam tapi endogna. Aji jadi teu luas nolak kana paménta manéhna. Tapi Aji rék ngusahakeun hudang janari langsung ka masjid DT.
“Insya Alloh, upami teu kawengian ngobrol sareng Urip di Geger Arumna, jeung Aji ogé tos lami tara gugah janari. Terahir téh.. uhh.. tos lami, éta ogé sasih syaum kamari. Nya Insya Alloh éngké jam tilu subuh Aji ka DT.”
“Nuhunnya Ji, Assalamualaikum wr. wb.”
“Waalaikumusalam wr.wb.?”
Sumangetna Ahmad dina ibadah lir seuneu anu ngalentab kalakay-kalakay anu ngalayang saencan nepi ka taneuh geus kaduruk. Lamun dina pertandingan maén bal jemput bola sigana.
Lila ogé Aji nyarita jeung Ahmad. Teu karasa geus hareupeun gedung PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa). Ahmad asup ka PKM Aji ka handap ka masjid Alfurqon.
Tonggérét banén marengan datangna soré. Hawa soré karasa nabrak kana awak, kana kulit beungeut, ngadupak batin? Ngahaliwir. Ahmad paling saeutikna ngingeutan Aji salaku babaturan. Salila ieu ngarasa deukeut jeung manéhna tapi karék ayeuna ngarasakeun kumaha deukeutna nu jadi babaturan. Malah Aji asa lain batur deui tapi ogé dulur anyar. Komo deui mun seug inget keur baheula basa jaman ospék. Moal bisa dibayangkeun Aji boga hutang kamanéhna sakitu gedéna, lain duit tapi tanaga jeung pikiran. Ahmad lir penaséhat atawa kokolot, najan Ahmad teu kolot tapi pamikiranana mawa ka jalan kahadéan. Hiji waktu Aji kungsi ngobrol ngeunaan awéwé manéhna siga anu anti, tapi pas ku Aji didedeseuk jeung dituduh anu lain-lain, manéhna ahirna nyaritakeun pangalamanana ka awéwé. Najan ditutup-tutup ogé ahirna kapanggih ku Aji tipe awéwé anu dipikaresep ka manehna. Tipena nya éta tipe awéwé sok hudang ti peuting. Dina harti lain rék usaha dina waktu poék mongkléng tapi anu rajin solat tahajudna.

Di salah sahiji rohangan di PKM Ahmad keur sibuk ngabéréskeun arsip-arsip anu geus teu kapaké. Surat-surat anu kaluar jeung anu asup diarsipkeun. Komputer hurung, RadioHead ngahaleuang na winamp, KarmaPolice. Kerén ogé laguna mah. Ahmad kawilang aktif di fakultas, manehna jadi Sekretaris Jénderal Sénat Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni UPI periode 2005/2006. Teu kungsi lila babaturan Ahmad datang, anu datang nya éta Prima, Ketua Sénat. Prima budak basa Inggris non kependidikan seméster tujuh. Awakna bureuteu, buukna pondok.
Adan isya geus kaliwat sababaraha menit. Tonggérét banén tinggal lawasna. Ahmad rada reuwas.
“Mad, tos netepan?” Prima nanya bari mawa gelas mawa, piring anu rék dikumbahan.
“Isya !!!”
“Éh..tos tabuh satengah dalapan langkung?”
“Astagfirloh….”
Bakat ku antengna kana pagawéan Ahmad poho kana waktu. Tidinya Ahmad nyusul Prima ka cai miheulan hudu tuluy solat isya. Bérés solat, Ahmad pamit ka Prima rék DT heula. Tadina Prima ogé rék milu ka DT, tapi lantaran aya kaperluan anu ngadadak, Prima kudu ka Gunung Tangkuban Perahu peuting ayeuna, teuing aya naon Ahmad sorangan teu apal. Padahal rorompok Prima di Gunung Batu Cimahi. Jam dalapan kurang dalapan menit Ahmad jeung Prima kaluar ti PKM. Prima nganteurkeun heula Ahmad ka DT.
Sapanjang jalan Gegerkalong ramé ku jalma anu ngahaja lempang mapay jalan. Kéor héjo tai kuda teu kaciri deui warnana lantaran jalan rada poék sawaréh. Salain ti kéor ojég ogé minuhan jalan Panoram anu rék ka Geger Kalong. Atuh tukang dagang ogé ngilu ngaramékeun sapanjang jalan Geger Kalong.
Ahmad langsung néangan tempat diuk anu ngeunaheun. Jamaah DT kawilang loba. Timimiti budak ngora, pelajar, mahasiwa, ibu-ibu, bapa-bapa minuhan saf di masjid DT. Nepika jalan ogé dikarpétan dipaké pikeun jamaah DT. Ahmad ngarapihkeun sendal gunungna, sajajar jeung sapatu, sendal jamaah anu lianna. Ahmad kabagéan biwir jalan. Najan kabagéan di biwir jalan Ahmad tartib tur husu ngaleunyeupan ceramah anu ditepikeun ku ustadz KH Abdullah Gymnastiar, anu nenehna AA Gym.


Saha nu teu apal Geger Arum, pikeun sakumna mahasiswa Universiats Pendidikan Indonesia(UPI) tangtu apal éta daérah Geger Arum téh. Pas parapatan tilu pisan imah babaturan Aji, manéhna ngawarung jeung boga wartél. Nepi ka imahna Aji langsung ka warung mung ukur aya bapa Urip nya Aji dititah langsung ka kamarna da Urip di kamarna. Aji langsung lempang ka pentas warung ka imahna. Sup ka kamar gambar Iwan Fals gedé ngajeblag na témbok, Aji jeung manéhna sarua pada-pada budak Oi 16 Juli basa keur sakola kénéh di SMA . Oi hiji organisasi anu pada-pada mikaresep ka Iwan Fals. Oi sorangan singketan tina Orang Indonesia, 16 Juli minangka oi kelompok anu dicandak tina salah sahiji judul laguna Iwan Fals. Urip rada reuwas, pangna reuwas téh Aji teu bébéja rék ka imahna. Aji mahékeun kasono, muragkeun kahayangna pikeun papanggih. Kamanéhna sagala dicaritakeun ti mimiti babaturan SMA nepika ayeuna waktu kuliah. Manéhna baheula kuliah di Unpas jurusan Téknik Industri, lantaran sibuk ku sagala kagiatan, jeung deui kagiatan anu teu ngarojong kana kuliahna, manéhna pindah kuliah ka Unikom. Bari ngagitar, dipirig harmonika anu ditiup jeung dikenyot Urip, Aji ngahaleuang Ujung Aspal Pondok Gede.

Jam salapan leuwih pangaosan di DT, réngsé Ahmad kaciri pisan bongan baju kokona semu hérang-hérang. Barang Ahmad maké sendal gunungna, punduk Ahmad kadupak Ogie, adi tingkatna entragan 2004, buukna beulah dua warna kulit rada poék. Kabeneran pisan éta Ogie panggih jeung Ahmad salaku lanceuk tingkatna. Ogie boga kaperluan anu penting pisan. Ogie rék nginjem sababaraha buku pikeun nyumponan hiji pancén mata kuliah sastra. Atuh Ahmad salaku lanceuk tingkat teu luas lamun teu mantuan mangnéangangkeun buku pikeun nyumponan pancén.
Ahmad jeung Ogie lempang mapay biwir jalan ngabring jeung batur anu tas ngaji di DT. Salila ieu Ahmad teu kost, Ahmad sok aya di himpunan atawa sekretariat mahasiswa jurusan basa Sunda di kampus UPI. Aya kana limabelas menitna jarak antara DT jeung sekretariat himpunan. Nepi ka sekretariat. Mahasiswa-mahasiswa saentragan Ahmad geus euweuh anu beunta. Tv hurung euweuh anu ngalalajoaan. Ahmad langsung muka kardus anu eusina buku-buku. Ahmad kawilang jalma anu resep meulian buku. Manéhna sok rajin ngajualan buku pikeun babaturan sakelasna. Ahmad ngaluarkeun opat lima buku. Tilu buku tiori dua buku antologi carpon.
Hawa sekretariat tiris, komo lamun kabeneran halimun aya di sabundeureun kampus cai anu di wc nyecepna siga cai nang nyicikeun na kulkas. Peuting simpé ngan ukur sora jangkrik silih témbal. Sakali-kali sok satpam anu patroli maké mobil masiksa unggal juru nu anu di kampus nya éta kaamanan kampus. Panto hareup anu dijagaan ku tilu satpam geus rada ditutup. Saurang satpam rada jauh ti panto hareup deukeut ka Pos sibuk keur ngahurungkeun durukan bongan peuting ayeuna hawa siga anu nangtang.
Ogie husu dina migawé pancén. Mukaan buku anu geus meunang milihan. Kitu deui Ahmad cindekul macaan buku mantuan migawé pancén kanu jadi adi tingkat. Kawas gaang katincak di sekretariat himpunan basa Sunda jempé, sawaréh geus pada saré. Lalaguan dina komputer geus aya kana sababaraha kali balikan lagu éta-éta kénéh. Lir orok anu dipépéndé Ogie jeung Ahmad anteng migawé pancén. Tret Ogie ngetik sakali-kali mukaan buku mastikeun pikeun ngadeudeul pancén. Teu Ahmad ogé mukaan buku pikeun mantuan sangkan pancén geura-geura anggeus. Salila migawé pancén, dua gelas cikopi maturan. Ngahaja Ogie tadi rada soré kénéh meulli heula kopi bungkus sangkan teu tunduh jeung deui tikoro sangkan teu hanaang. Katingali éta pancén kudu buru-buru dibikeun ka dosén. Lamun teu buru-buru sigana Ogie moal migawé éta pancén ayeuna. Migawé pancén peuting pikeun mahasiswa lain perkara anu ahéng deui Sanajan éta pancén téh sabenerna geus lila. Dosén ogé tangtu boga pikiran maenya méré pancén ngadadak mah meureun, éta pancén aya kana dua mingguna atawa saminggu. Hiji adat anu sok di diogo ku mahasiswa yén ari migawé pancén sok tara ti anggalna. Ari waktu téréh nyamporét kakara dipigawé. Pajarkeun téh alesan itu, alesan ieu ah loba alesan. Pira gé migawé pancén komo seug lamun éngké néang duit pikeun ngabiayaan rumah tangga ték kumaha? Ahmad ngaping Ogie dina migawé pancén. Ahmad kaasup lanceuk tingkat anu miyuni kembang, lobar adi tingkat anu mikaresep. Éta pédah lamun seug adi tingkat minjem buku lain ngan ukur dibéré nginjem tapi diaping dina mésék pasualan anu disanghareupan ku nu jadi adi tingkat. Ahmad salah sahiji mahasiswa anu loba luang jeung dalung, matak teu salah Ogie ménta tulung ka Ahmad sangkan diaping dina migawé pancén. Lir caang bulan di luar pangaweruh Ahmad népa ka béntang. Ogie minangka béntang anu aya di langit ayeuna atuh kacaangan lantaran caangna éta bulan.

Kitu deui di Geger Arum simpé. Janari gedé geus kaliwat. Aji jeung Urip masih ngunem catur. Ari ngobrol jeung batur anu geus lila teu panggih waktu sajam dua jam teu cukup. Asa sakilat. Sagala waé bisa jadi jejer dina omongan. Narik-narik mangsa anu geus kaliwat anu baheula kungsi babarengan ngalaman. Sakola di SMA nyimpeun hiji panineungan pikeun Aji jeung Urip. Gitar jeung harmonika ngahaneutan hawa kamar anu beuki nyérét ka janari leutik. Opieun geus kari urutna, kitu deui ninyuh cikopi geus aya kana dua tilu kalina. Aji jeung Urip lain ngan ukur babaturan tapi ogé geus jadi dulur. Matakna ari Aji ngahaja ulin mka Geger Arum, pasti kudu mondok.[hanca]


Syarief H., ayeuna sibuk di *RBS*

Hareudang [carita pondok]


Mun ngahaja-haja ngitung usum téh asa euweuh gunana. Komo ayeuna ongkoh usum halodo tapi kamari hujan ngagebrét. Malah nepi ka hujan és. Jadi watir ka anu daradang. Komo tah ari kagiliran tukang és, ningali kaayaan halodo kieu mah haténa asa tenang. Éta giliran usum hujan ehmm pikumahaeun tah éta barang dagangan téh. Ehmm untung aya tukang és lilin. Keur mah eukeur ayeuna panas mentrang kieu. Tikoro asa diséblok ku cai sajolang. Najan siga budak leutik ah ari ngeunah teu nanaon, teu kudu éra. Mun maok kakara éra ku sakampung.
“Mang meuli dua?”
Duit sarébu bisa ngubaran tikoro anu sakieu garingna. Tah coba mun di rumah sakit mah, mahi ka nu naon duit sarébu? Malah miceun cikiih di masjid Agung Bandung nu di Alun-alun gé leuwih ti sarébu.
Ayeuna kuring keur mantuan tatangga malé motor atawa ngoméan. Hareudang pisan kana pikiran. Komo ari teu kapanggih panyakitna. Ehmm beuki wé hareudang. Komo tah ari bagéan jerona atawa mesinna nu rusak duitt béak saratus-duaratus téh, asa teu karasa. Leuheung kénéh ari ngoméan bagéan body, paling gé meuli cover. Kuring milu gawé di tatangga kuring anu sok jual-beuli motor. Ah ieu mah itung-itung diajar momontiran. Bari sakalian nginget-nginget basa sakola di STM.
Alhamdulillah tah geuning adan lohor geus nitah kuring pikeun ka cai. Kuring ka imah heula. Hareudang karasa, saawak-awak pinuh ku késang jeung leungeun bobolokot ku oli, jadi hayang mandi. Kabeneran cai di daérah kuring teu hararésé. Pédah ngilu nyelang ka pabrik tahu, jadi unggal poé ngocor waé. Bérés solat lohor, can ogé ngadua di luar ceu Euis, gogorowokan.
”Yeuh...ari ulin tong jeung urang Madura. Geus nyaho manéh téh sok ceurik waé?” ceu Euis nyarékan anakna si Lélén.
Éta sora teuing sabaraha oktaf. Nu puguh mah ceuli kuring gé asa kaheurinan ku tarikna omongan ceu Euis pamajikan mang Harun bos tahu di daérak kuring. Éta emasna renceum siga toko emas Harapan Jaya di daérah Jamika waé. Uuuh hareudang. Teu pira pasualan budak leutik kakuat jojorowokan kitu. Émang geus adatna kumaha deui atuh...
Méréskeun pagawéan nu tadi. Tinggal saeutik deui. Teu lila torojol datang nu nawarkeun motor Suzuki Smash taun 2004, warna beureum. Manéhna hayang lima saparapat ditawar ku si Éé tatangga kuring opat saparat. si Éé ningalian heula tur nyobaan éta motor. Starter jalan, lampu-lampu harurung, mesin teu ceurik, nomer rangka, nomer mesin alus. Pas di tanyakeun faktur ti dealer? Nu nawarkeun ngahuleng...
“ Pa ..pami teu aya faktur penjualan ti dealer ah.. abdi mah teu wantun?” si Éé nanya bari ningalian STNK jeung BPKB.
“Émang kedah aya faktur penjualan?”
“Muhun A, pami teu ah wios... teu cios”
“sanés abdi téh kamari mésér motor ieu téh pun lanceuk, janten teu teurang nanaon?”
“Émang mésér di mana ?”
“di Pagarsih?”
“Ahh.. mending dipasihkeun deui ka bandar nu aya di Pagarsih?”
“ Muhun éta ogé alimeun”
“Naha? Ah éta mah teu tanggung jawab wé bandarna?”
“Wios atuh abdi badé ka Pagarsih deui wé?”
“Muhun A, pasihkeun deui ka bandarna wios wé kajeun dipotong saratus atawa dua ratus mah daripada teu pajeung diical mah”
Nu mawa motor ngabeleunyeung ka béh wétankeun mapay sisi susukan nu barau ku cai ti pabrik.
“Ehmm hareudang meuli motor euweuh faktur penjualan mah?”
Ehm jaman ayeuna masih aya kénéh anu katipu.. hareudang... bérés ogé geuning...
“Cing pangnyelahkeun?” si Éé nitah bari leungeun udud Samsu.
“tTah alus ..euweuh sora totorotokkan deui”

“Awas sia mun ulin deui jeung budak aing, geus Lélén asup ka imah. maén PS mah sorangan !”ehmm ceu Euis ngadat deui bari leungeun mamawa sendal capit. Lain lamun jadi aktor mah alus. Siga téh Rinrin salah sahiji aktris teater di gedong kasenian Rumentang Siang Bandung.

Syarief H. Ayeuna mah sanes di Pasir Koja, tapi di Cibeber.

Sapatu Warriors [carita pondok]


“Ma, sapatu sakola abi hareupna geus dobol?”
“Tambal wé..atuh.?! Piraning bolong sakitu maké kudu laporan sagala.Yeuh.... ari sapatu masih kénéh bisa dipaké mah, teu kudu laporan. Apal Ema ogé, éta sapatu geus lila jeung deui bangung nu hayang diganti. Ké mun Ema geus boga milik, ku Ema gé pangmeulikeun. Sabar wé ayeuna mah. Tah geuwat ..siksikan engkol! Tong hararésé ari gawé téh, Wa, Haji geus pesen bala-bala lima rébueun.”
Sanggeus bérés nyiksikan kuring asup ka kamar. Lampu lima watt, gigireun radio nyaangan kuring mahékeun kahayang kana kertas bodas. Saprak Bapa kuring maot kuring euweuh batur ngobrol. Komo ari pasualan lalaki mah. Indung kuring najan sok ngahaja hayang apal kahayang kuring, kuring tara loba nyarita. Kuring leuwih bébas nyarita kana kertas bodas anu ayeuna keur disanghareupan. Kuring teu boga lanceuk. Kuring anak hiji-hijina. Teuing ku naon kuring sok asa ngarasa betah nalika kuring geus ngucurkeun sagala rasa tur eusi haté kana catetan harian. Ayeuna kuring keur nulis, dibaturan caang bulan jeung kasétna na tape.
Salasa, 5 Séptémbér 2006#
Panon poé tadi marengan kuring mangkat ka sakola. Poé ayeuna na haté kuring asa sumanget-sumanget teuing, padahal kahayang kuring pikeun ngaganti sapatu can kalaksanakeun. Malah siagana ngan ukur implengan ukur. Boa-boa kuring meunang musibah. Tapi haté asa bungah. Sajajalan kuring mikiran kumaha carana pikeun ngaganti ieu sapatu. Kuring teu bisa maksa ka nu jadi indung. Malah kuring sok narimakeun kana kaayaan. Keur mah eukeur kuring jalma teu boga. Tapi ah.. alhamdulillah sakieu gé kuring bisa sakola SMP. Ninggang bapa jeung indung kuring SD gé teu tamat.
Sup ka sakola kuring langsung ka barudak. Barudak keur ngarumpul hareupeun mading (majalah dingding) sakola gigireun kantor OSIS. Kuring ngadeukeutan. OSIS SMP kuring ngayakeun pasanggiri ngarang sajak keur sakumna barudak sakola.
Ayeuna jam satengah satu kuring mulang. Kuring mulang naék sapatu hideung nu geus hayang diganti tur bolong sisi-sisina. ***

“Ma ari, buku-buku si Bapa nu baheula rék di kilo téa masih aya? Ku Ema ditunda di mana?”
“Naon maké nananyakeun buku si Bapa, tuh di dapur. Mun teu téga ka si Bapa mah Ema rék mikeun ka tukang rongsokan. Tapi Ema apal kumaha harita Bapa manéh ngumpulkeum éta buku-buku. Jeung deui rék dijual gé moal mahi kana nanaon.”
Aya tujuh kardus sarimi eusina buku-buku baheula. Kuring mukaan tur macaan. Ehm lain ti harita kénéh kuring muka ieu kardus. Najan kuring kulawarga nu teu boga, na haté kuring asa meunang warisan anu moal béak tujuh turunan. Kuring beuki sumanget. Teu nyangka Bapa kuring resep ogé kanu kieu. Tina sakian puluh buku anu ku kuring dibukaan kuring misahkeun hiji buku kumpulan sajak Sajak-sajak Sepatu Tua karya Rendra. Ah sugan wé ieu jadi inspirasi pikeun kuring nyieun sajak peuting ayeuna. Basana najan teu kaharti ku kuring tapi kuring geus mimiti ngabiasakeun. Neuleuman hiji tulisan teu bisa langsung ngarti tur nyaho naon maksudna. Kuring malah kuring nanyakeun ka guru bahasa kuring éngké di sakola.
Sajak Sapatu Hideung
Léngkah kuring, léngkah pangdu’a ti nu jadi kolot
Léngkah kuring, léngkah nu rék nyiar élmu
Léngkah kuring, maturan aspal jeung batu koral
Léngkah kuring, tabungan kuring keur jaga pagéto
Léngkah kuring, léngkahna panon poé
Pasir Koja 5 Séptémber 2006
***
Sabulan ti harita.
Kemis, 5 Oktober 2006#
Alhamdulillah kamari béwara pasanggiri ngarang sajak. Susuganan jeung mimilikan kuring asup jadi pinunjul. Antukna kuring teu jadi pinunjul. Cipanon sabenerna hayang kaluar, ehm.... kuring mulang bari mawa sertifikat, yén kuring geus miluan pasanggiri sajak. Sertifikat mah loba, kuring lain hayang sertifikat. Ahirna kuring ngucurkeun cipanon, malah ngeclak kana sapatu warriors kuring. Warna hideung na sapatu geus robah. Tapi ceurik gé kuring euweuh hartina. Saha anu rék ngadéngé. Kuring mulang meulah komplék Dian Permai, Caringin. Sajajalan kuring tuluy mikiran naha kuring teu meunang. Panasaran naha kuring bet éléh. Padahal kuring geus satékah polah pikeun nyieun éta sajak sangkan meunang.... jadi haroréam nulis sajak deui.
Nepi ogé ka imah. kuring jadi leuwih panasaran hayang macaan catetan-catetan bapa kuring. Keun baé kuring éléh dina pasanggiri nyieun sajak anu penting kuring moal ngaleupaskeun karesep kuring kana macaan carita-carita anu geus ditulis ku bapa kuring. Geus hapeuk jeung loba kebul. Kuring tuluy macaan. Mangsina sawaréh geus rarobah warnana. Nu baheula hideung rada semu coklat kaayeunakeun mah. Sigana ieu geus aya kana mangtaun-taunna. Na luhur unggal kacana, teu weléh ditulisan poé, tanggal, bulan jeung taun.
Teu pira tina sajak kuring ayeuna boga sapatu anyar. Ayeuna kuring keur nyorangan di kamar bari nngadéngékeun kasét na tape.***

rumput hijau [cerita pendek]


Uh..tak terasa aku mulai merasakan hangatnya suasana rumahku dan sekitar halaman rumahku. Oh ya entah mengapa aku sekarang bisa menikmati suasana sekolah ini. Aku sendiri tak tahu sekolah apa ini, entah SD, SMP, SMA atau perguruan tinggi. Perkenalkan aku adalah rumput yang ada di pinggir lapangan, aku tak tahu kapan aku lahir dan siapa bapak dan ibuku. Yang aku tahu, aku sekarang berdiri bersama teman-temanku yang mungkin sama dengan aku nasibnya. Entah sampai kapan aku akan terus bisa menikmati kehidupan di pinggir lapangan ini. Oh ya hari senin tanggal 25 oktober, tak terasa sekarang telah jam satu lebih dan hujan pun turun. Akhirnya aku menikmati suguhan yang benar-benar aku perlukan untuk kelangsungan hidupku. Hujan kali ini tak begitu deras, lapangan pun mulai basah tersiram air dari langit. Memang sekolah pada saat jam sekarang sepi. Berbeda pada waktu pagi pada saat orang mulai berdatangan dan bersalaman. Begitu ramainya, begitu hangatnya suasana yang diciptakan oleh mereka. Mungkin itu luapan emosi yang ada pada manusia setelah sekian lama tak bertemu dan melewati hari yang fitri. Aku rumput yang menikmati hujan entah kiriman siapa? Yang jelas aku sekarang sedang menikmati segarnya hujan kala aku merindukan dinginnya air yang turun dari langit. Hujan masih turun dan tak reda, aku basah. Sama seperti teman-temanku yang lain. Tanah pun ikut basah tersiram oleh air yang turun dari langit. Oh ..ya baru saja datang anak-anak dari luar untuk ikut menikmati hujan di atas lapangan ini. Ternyata mereka pun menikmati suasana seperti ini, walaupun hanya dengan bola plastik mereka bisa bergaya seolah bermain di lapangan yang semestinya. Oh..ya nasibku tak seperti rumput-rumput yang ada di lapangan-lapangan bola di stadion-stadion sepak bola milik klub besar. Mereka selalu dirawat. Walaupun mereka tak minta untuk dirawat. Sebaliknya dengan aku, entah sampai kapan aku akan hidup, mungkin nanti saatnya aku akan dicabut sama seperti teman-teman aku yang ada di pinggir lapangan. Nasibku tergantung oleh seorang petugas kebersihkan sekolah. Mungkin jika saatnya telah tiba aku tak bisa lagi menikmati suasana yang seperti sekarang ini. Hujan agak reda sekarang, aku sekarang masih memikirkan sampai kapan aku bisa hidup. Yang aku takutkan sekarang ini adalah kedatangan seorang petugas kebersihan sekolah untuk mencabut aku dan akhirnya aku dibuang ke tempat yang aku tak kenal dan biasa di tempat seperti itu. Ketakuan memuncak dan menggunung...ya sekarang hitungan umurku tergantung pada seseorang. Dan seseorang itu aku sangat membenci kedatanganya. Perasaan terus saja mengejar-ngejar aku hingga aku pun mengering dan sebagian lapangan pun mengering karena hujan telah reda. Tak yang aku pikirkan dari sekarang. Aku sekarang hanya akan menikmati kehidupan sekarang ini. Aku pun tak peduli jika nanti ada seseorang dan langsung mencabutku dan membuang aku di tempat sampah. Aku bukan runtah, aku rumput yang berada di pinggir lapangan. Tubuhku hijau ya semua orangpun tahu bahwa tubuh aku hijau. Kadang hidup hanya sampai jadi makanan kamping, kerbau atau lebih parahnya aku dibuang. Aku lebih baik dipotong oleh arit, dan langsung dimakan oleh kambing atau daripada hidupku harus dicabut dan terus dibuang. Hidup memang pilihan mau yang a atau yang b. Tapi aku hanya bisa menunggu tak bisa memaksa. Kadang aku ingin memaksa tapi keadaan yang membuatku kadang tak bisa menerima kenyataan ini. Keadaan di lapangan kembali menghangat, tak terasa jam pun menunjukkan jam dua kurang seperempat. Oh..ya ada seekor burung gereja yang mendarat di atas lapangan. Burung gereja itu sedang sibuk mencari makan. Ah...burung gereja kembali terbang. Aku pun merasa sendiri lagi. Di sekolah ini tak terlihat ada tanda-tanda kehidupan. Sepertinya mungkin besok, ketika anak-anak sekolah mulai kembali melakukan kegiatan belajarnya. Uhhh akhirnya anak-anak yang bermain sepak bola kembali bermain, aku pun kembali terhibur setelah datangnya anak-anak yang bersemangat main bola. Andai saja semangat hidupku seperti anak-anak yang sedang bermain sepak bola. Mungkin aku akan berumur panjang. Tapi aku tak ingin berumur panjang, sebab jika aku berumur panjang sendiri, sedangkan orang lain semuanya berumur pendek aku akan sendirian di dunia ini. Tadi saja aku merasa sendiri bagaimana jika aku berumur panjang. Tidak-tidak aku tak ingin berumur panjang jika hidupku hanya aku gunakan untuk ketidakmanfaatan di dunia. Aku hanya rumput hijau ya... hijau warna tubuhku. Hidupku pun kini tak merasa bermanfaat, aku merasa sepi. Walaupun di atas lapangan banyak anak-anak yang secara tak sengaja mereka telah menghiburku sebelum aku dicabut oleh petugas kebersihan sekolah. Oh aku hanya akan mengucapkan maaf yang sedalam-dalamnya. Apalagi kepada kedua temanku yang berdiri tegak di samping kiri dan kanan...ya sahabatku ring basket. Dia selalu setia menemaniku saat malam, saat siang, setia setiap saat dia berdiri tegak. Aku ucapkan selamat tinggal kepada teman-temanku walaupun aku tidak tahu apakah aku masih bisa menikmati heningnya malam di sekolah ini, dan hangatnya mentari di pagi hari. Oh ..ya kepada kawan lamaku lukisan yang telah menghiasi warna-warni di sekolah ini. Walaupun aku lihat kawanku yang satu ini telah sekarat karena gambarnya sudah tak jelas lagi. Nasibku tak mau seperti dia, sekarat. Aku lebih baik mati di tangan para pencari rumput dan langsung diberikan kepada kambing yang kelaparan...ya denga begitu hidupku telah menyelamatkan hidup orang lain. Walau dalam ukuran kambing yang nantinya akan dipotong oleh seorang jagal. Cita-cita aku ingin menjadi rumput hijau yang bermanfaat bagi orang lain...ya itu saja. Aku tak mau mempunyai cita-cita yang tinggi yang akhirnya aku sendiri akan gila dengan cita-cita yang takkan kesampaian. Biar cita-citaku hanya sebatas itu saja, aku lelah karena dengan cita-cita yang tinggi aku perlu tenaga yang ekstra. Aku masih sendiri ya ..sebentar lagi pintu malam akan membuka dan aku akan menikmati malam yang hening sendiri di sekolah ini. Tapi aku benar-benar menikmati hidupku walaupun aku hanya setangkai rumput yang akhirnya terbuang. Aku masih memikirkan kesalahan-kesalahan yang pernah aku lakukan kepada orang lain. Aku takut akan kesalahan-kesalahan yang mendorongku untuk terus membuat kesalahan yang menggunung. Masih di pinggir lapangan aku terus sendiri dan menikmati hidup.

Pasir Koja, Oktober 2007

Jina [cerita pendek]


Hari ini, hari selasa aku berangkat ke sekolah dengan menggunakan angkutan umum yang biasa aku tumpangi. Untungnya aku bangun agak pagi, hingga aku bisa leluasa menyiapkan segala keperluanku pergi ke sekolah. Aku selalu semangat untuk sekolah, tapi entah mengapa semenjak aku masuk ke sekolah ini, aku selalu saja semangat. Anak-anak sekelas selalu saja mengolok-olok namaku. Apalagi saat guru di depan kelas sedang mengabsen, giliran aku terpanggil aku selalu menjadi ejekan teman-temanku sekelas. Aku sekarang mulai memasuki halaman rindang hijau sekolahanku. Andai aku menjadi salah satu tumbuhan yang berada di taman sekolahku ini. Hati akan tenang damai dan selalu terperhatikan dan dirawat oleh tukang kebun. Aku langsung masuk ruang kelasku di dekat kantor guru. Aku selalu menjadi orang yang pertama datang ke ruangan kelas ini. Ketika aku melihat jam tangan tepat jam 6 lebih lima belas menit. Ruangan ini masih kosong, dan aku menikmati bersama bangku-bangku yang belum dipakai oleh teman-teman. Entah mengapa aku selalu ingin berangkat agak pagi ke sekolah. Sebentar lagi UTS, aku mulai sibuk dengan soal-soal latihan yang diberikan oleh setiap guru mata pelajaran. Huhh akhirnya teman-temanku datang, dan sekarang aku tidak kesepian lagi. Keramaian di kelas mulai terasa, Septi teman dekatku pun kini telah datang. Ia langsung membuka sebuah bungkusan yang ia bawa dari rumahnya. Ternyata beberapa potong roti isi. Aku diberinya, dengan senang hati aku menikmatinya dan melahapnya. Kami pun akhirnya canda tawa berbarengan dengan roti isi buatan ibunya Septi. Memang Septi tak sering membawa roti isi ke sekolah. Itu pun kalau ia tak sempat sarapan pagi di rumah, roti isinya itu ia bawa ke sekolah. Bel berbunyi dan bergema di sekitar sekolahan. Pelajaran pertama di kelasku adalah pelajaran sejarah. Aku sangat suka dengan pelajaran sejarah, apalagi sekarang tentang revolusi di dunia Barat. Aku suka sejarah, karena pelajaran sejarah bagiku adalah mengenang para pahlawan yang telah meneteskan darahnya untuk perjalanan bangsanya. Revolusi di Rusia, aku pernah membuka buku-buku tentang revolusi Rusia. Dengan sejarah aku juga dapat mengenal gerakan-gerakan yang ada di dunia. Tak hanya itu tokoh-tokoh yang penting dan berpengaruh di dunia aku dapat mengetahuinya. Seperti Muhammad SAW, Karl Marx, Lenin, Martin Luther King Jr, Malcom X, Mumia Abu Jamal, Mao Tse Sung, Voltaire, Adam Smith, dan banyak lagi. Guruku sekarang sedang asik mengabsen. Kini saatnya datang, aku tak ingin dipanggil oleh guruku. Bukannya kenapa, aku selalu saja diejek oleh teman-temanku. Padahal namaku Jina Marxiana. Kadang-kadang temanku mempelesetkan dengan nama Jinah Maksiat. Itu tak berhenti pada saat selesai absen, tapi juga kadang-kadang saat aku melewati sekumpulan anak-anak lelaki. Suatu saat pernah, aku pertama kali masuk ke sekolah ini, dan ada teman lelaki yang terus saja memperolok-olok namaku. Waktu aku masih duduk di kelas X, saking kesalnya aku sempat memukulnya di wc pada saat istirahat. Akhirnya aku dipanggil ke BK (bimbingan konseling). Dan aku pun diskor beberapa hari. Nama lelaki itu adalah Gorky M. Ia kini sekelas dengan di kelas XII IPA 3, ia cukup pintar tapi aku lebih pintar. Waktu itu aku pernah berdebat dengannya tentang pelajaran sejarah, untung saja yang menjadi penengah adalah pak Kamil, guru sejarahku yang aku banggakan. Ia tetap mempertahankan pendapatnya tentang pelajaran sejarah, bahwa sejarah di Indonesia itu tidak jelas, ia tak menjelaskan mengapa ia melontarkan pendapatnya begitu, sedangkan aku pada waktu itu menjelaskan bahwa sejarah dapat dibuat dengan sesuka hati jika melihat siapa yang waktu itu berkuasa. Akhirnya, pak Kamil pun menjelaskan bahwa pendapat kami berdua itu betul dua-duanya. Dengan terbiasanya aku mulai terima keadaan seperti itu. Akhirnya kami pun bertemu di ekstrakulikuler. Aku masuk Klab Baca di sekolahku. Aku mulai terbiasa dengan kegiatan-kegiatan membaca dan menulis. Gorky, pun akhirnya masuk Klab Baca. Dengan bimbingan guru bahasa, aku tertarik pada kegiatan-kegiatan di ekstrakulikuler ini. Setiap hari jum’at sore aku berkumpul dengan anak-anak sesekolah. Kebanyakan anak-anak kelas XI, untuk sekarang koordinatornya adalah Gelar, anak XI IPS III. Ehmm tampaknya aku sedang menghayal. Tak terasa bel istirahat berbunyi. Aku menuju kantin bu Enci. Aku memesan bubur keju dengan taburan suwir ayam. Aku tak sempat sarapan, untung saja tadi pagi aku diajak makan bareng roti isi dari Septi. Uh.. akhirnya datang juga pesananku. Dengan taburan emping enak juga. Teh manis hangat mulai kunikmati. Dua puluh menit bagiku sangat berguna. Selain istirahat aku, bisa menikmati suasana di sekolahanku yang asri. Aku sangat senang jika melihat pohon-pohon hijau di lingkungan sekolah, karena bagiku merasa tenang dan damai. Bukan saja tenang dan damai, tapi aku ikut merasakan bahwa sekarang di dunia ini telah mengalami pemanasan global. Di mana lapisan es di kutub utara dan selatan meleleh karena panasnya bumi yang meningkat. Dengan banyak pohon di sekolahku berarti telah mengurangi dampak pemanasan global. Akhirnya bel masuk pun berbunyi, aku masuk kelas melewati lorong kelas anak-anak kelas X. Hari ini pelajaran bahasa Indonesia, ya gurunya masih sakit. Akhirnya aku pun diam dan mengerjakan tugas dengan sedikit keramaian di dalam kelas. Tak lama datang wakil kepala sekolah. Pak Iwan, adalah kesiswaan di sekolah saya. Ia mendapatkan laporan bahwa ada anak yang sering mengikuti diskusi-diskusi tentang politik di salah satu ruang baca alternatif. Akhirnya aku pun dipanggil ke ruang kepala sekolah. Aku merasa tidak ada yang salah, apalagi keikutsertaanku pada diskusi itu karena ingin menambah wacana saja tentang politik, sosial, dan ekonomi kekinian. Memang waktu itu, ada penggrebegan. Karena waktu itu sedang membahas paham Marxisme. Mungkin karena isu-isu komunislah yang dibahas pada waktu hingga aku dipanggil oleh wakil kepala sekolah. Aku mulai diserang dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat aku tersudut oleh keadaan. Aku terdesak...apa lagi sejak kedatangan wali kelasku bu Nuraeni, guru kimia. Ia tampak ingin membelaku melihat posisiku semakin terdesak. Aku menjelaskan bahwaku hadir pada waktu itu hanya sebatas peserta diskusi, artinya tidak terlibat dengan panitia penyelenggara acara tersebut. Pak Kamil pun datang, dan malah ia yang membelaku dengan pembelaan-pembelaan layaknya seorang pengacara terhadap kliennya. Ruangan kepala sekolah mulai panas, aku dimarahi aku takut terlibat dengan gerakan Marxisme di kota Bandung. Pak Kamil lebih jauh membelaku, lagi-lagi ia pun marah karena merasa kebebasanku dirampas oleh pihak sekolah. Tepat jam setengah dua belas, aku keluar dari ruangan neraka itu. Dalam benakku banjir akan pertanyaan-pertanyaan yang tak masuk akal. Mengapa kebebasanku terampas oleh laporan yang datang ke sekolah dan tidak diberitahukan siapa yang melaporkannya. Aku masuk kelas, aku mulai muak dengan sistem yang ada di sekolah ini. Di hadapanku lembar kerja tak semangat aku mengisinya. Aku terdiam, dan terus memikirkannya. Bel pulang sekolah pun berbunyi dan aku tak semangat untuk pergi pulang. Kebebasanku terengut, oleh kesalahpahaman. Matahari tepat berada di atas kepalaku, aku diam di kantin dan terus memikirkan. Sebenarnya aku masih tanda tanya pada kejadian yang tadi aku alami. Aku enggan pulang ke rumah. Aku ingin melawan. Aku membuka buku harianku, kubuka dan kutulis. Akhirnya aku mempunyai ide untuk memberontak lewat tulisan. Agar semua tahu, bahwa aku tak salah. Aku masih memikirkan rencana-rencana yang akan aku lakukan di hari-hari yang akan datang. Tak lama kemudian Gorky berada di hadapanku. [bersambung]

Ibunda [cerita pendek]


Pagi di hari senin matahari masih diselimuti awan shubuh. Aku masih terbaring di atas tempat tidurku. Jam dinding di kamarku menunjukkan 04:30, aku bangun dan langsung pergi ke kamar mandi. Berwudhu lalu lekas solat. Ibuku sedang sibuk menyiapkan beberapa adonan gorengan untuk dijual di warung kakakku yang kedua. Sebenarnya ibuku sudah bangun dari jam tiga dini hari tadi. Sedang aku waktu itu masih enak-enaknya tidur dan tak mau diganggu. Sejak bapakku masih ada pun ibuku sudah berjualan macam-macam makanan. Aku masih ingat ketika aku sekolah di SD Babakan II, ibuku berjualan nasi kuning. Aku sendiri sering menimatinya, sebagai sarapan sebelum aku pergi ke sekolah. Ketika itu yang menjadi langganan ibuku adalah para pegawai pabrik tahu hingga penjual tahu itu sendiri. Waktu itu bapakku masih ada, ia membantu ibuku dalam hal mengantarkan nasi-nasi kepada para pegawai pabrik. Aku juga masih ingat kenapa ibuku berhenti berjualan nasi kuning. Ya ketika itu kakakku perempuanku yang bernama Yuli Yunengsih yang lahir pada tanggal 17 Juli, mengalami sakit yang cukup parah. Kakakku mengidap penyakit TBC, hingga berat badannya pun turun drastis. Dan aku masih ingat hingga ia tidak bisa berjalan untuk pergi ke kamar mandi, hingga harus menggunakan skateboard yang aku miliki. Ia juga harus meminum 15 jenis obat dalam sehari. Kakakku waktu itu mual, ketika harus meminum 15 jenis obat dalam sehari. Hingga ia pun pernah menyelipkan sebagian obat-obatnya di sela-sela korsi sudut yang ada di ruangan tamu. Sungguh perih penderitaan yang dialami kakak perempuanku. Sekarang ia sudah mempunyai dua orang anak. Gias Muhammad, Zahra Gausani. Sekarang tinggal di Cianjur menikah dengan seorang guru. Aku masih di kamar dan menikmati gorengan hangat buatan ibuku. Hari ini aku tak ada jam mengajar, aku nikmati dengan beristirahat di rumah bersama ibuku. Oh...ya ibu juga tak hanya berjualan di bulan-bulan biasa. Ia juga berjualan pada waktu bulan ramadhan datang. Memanfaatkan warung kakakku, ibuku berjualan kolek. Dari kolek pisang hingga candil dan bubur sum-sum. Itulah ibuku, entah semangat apa yang ada di dalam dadanya. Dari tahun ke tahun ia terus bersiasat untuk mencari penghasilan. Apalagi ketika bapakku telah tiada. Tahun 2004, aku masih berada di bangku kuliah tingkat dua. Sejak bapak tiada ibuku membanting semangat untuk membiayai kuliah sehari-hari. Kakakku perempuanku yang pertama pun tak lepas membantu dalam hal ini. Ia terus mendorong dengan batin maupun lahir. Ibuku seminggu harus menyiapkan uang kuliah sebesar 75.000 sampai 80.000, sungguh uang yang tidak kecil bagiku. Aku tak tahu berapa laba yang ibuku peroleh dari hasil berjualannya waktu itu, yang aku tahu bahwa aku harus menerima uang kuliah selama seminggu sebesar hampir mencapai seratus ribuan.
Tak terasa jam sudah menunjukkan setengah tujuh lebih. Ibuku sudah beres menggoreng tinggal menunggu pembeli-pembeli yang lainnya berdatangan. Harga gorengan pun cukup murah yaitu seribu tiga buah. Ada bala-bala, gehu, martabak telor, dan pisang aroma. Yang paling aku suka adalah bala-balanya. Dari sore hari setalah belanja keperluan untuk berdagang, ibuku sudah membersihkan wortel dan engkol. Sesudah dipotong-potong dan diiris, ia lalu membersihkannya dengan air lalu ditiriskan. Di malam hari lalu ibuku membuat odonan untuk bumbu dengan menggunakan alat yang tradisional. Bala-bala ibuku beda dengan bala-bala yang aku temui di tukang gorengan di mana pun. Bala-bala ibuku besar dan mempunyai rasa yang khas. Apalagi kalau dimakan dengan nasi putih yang hangat ditambah saus bangkok dalam botol...uhhh manyus kata pa Bondan yang menjadi presenter Wisata Kuliner di salah satu stasiun televisi swasta. Ya... bumbu yang ibu buat terasa sekali, berpadu dengan sayur-sayuran yang telah bersih dicuci lalu dengan bumdu yang aku sendiri tak tahu apa namanya, dan terasa lada yang benar-benar pas nikmatnya, tiada bandingan. Aku sungguh bersyukur mempunyai ibuku yang pandai membuat goreng-gorengan. Coba bayangkan, jika ibuku tidak menjual goreng-gorengan mungkin aku kelabakan mencari sesuatu untuk dimakan sewaktu pagi datang. Untuk itu aku bangga menjadi seorang anak bungsunya.
Santai di rumah, beda dengan ibuku. Keringatnya menyilaukan pandanganku padanya. Aku melihat wajah lelah menghampiri dirinya. Aku ingin menghibur dirinya, namun aku tak bisa mendekati dirinya dengan hiburanku sendiri. Yang aku bisa aku hanya bisa berbuat yang terbaik untuk ibuku. Aku sempat membuat ibuku tercengang mendengar bahwa aku akan lulus tahun dengan, sedang seharusnya tahun sekarang. Ibuku mungkin menyimpan perasaan yang sedih mendengar pernyataan langsung dariku. Yang aku beratkan juga, aku harus mengajar dan menyelesaikan. Sungguh aku tak bisa menghadapi dua dunia yang benar-benar baru buatku. Kakakku juga sempat marah mendengar pernyataanku demikian. Setelaha aku jalani dengan sepenuh jiwa yang yang bersemangat, entah ada malaikat apa dalam diriku. Pertengahan maret 2007, aku ujian sidang skripsi. Sebulan kemudian aku diwisuda. Ketika hari wisuda tiba, masih ada yang kurang. Bapakku tak menyaksikan aku lulus kuliah. Hanya ibu, kakak-kakakku dan keponakan-keponakanku yang menjadi saksi.
Matahari mulai mendaki dan menyinari halaman rumah yang becek dan gang yang bercabang. Orang-orang di sekitar daerahku mulai sibuk dengan segala aktifitasnya yang berbeda. Anak-anak usia sekolah, bergerombol menuju istana pendidikannya masing-masing. Aku sendiri kembali menikmati gorengan kesukaanku yaitu bala-bala. Kadang aku suka lansung mengambilnya dari penggorengan, atau belum terlalu kering. Karena makan bala-bala lembek bagiku lebih enak, daripada kering. Apalagi tadi ditambah saus bangkok dan nasi putih. Kadang aku sering membarengkan makan nasi kuning dengan bala-bala buatan ibuku. Walaupun nasi kuningnya dari orang lain, yang penting bala-balanya buatan ibuku.
Jualan ibuku sedikit-sedikit mulai habis dibeli oleh para pembeli. Aku pun senang..ya karena ibuku dapat kembali membelikan keperluan-keperluan untuk berdagang esok harinya. Sekarang jam setengah sepuluh, matahari menghangatkan keadaan sekitar rumahku. Agak siang ibuku kadang suka istirahat dengan tidur-tiduran. Ya mungkin itu obat terjitu yang ibuku punya untuk mendelete semua kelelahan-kelelahan yang ada di dalam dirinya. Aku pun demikian kala aku diserang oleh sekumpulan lelah, obat yang paling mujarab adalah istirahat yang banyak. Aku masih di dalam kamar dan menikmati hari dengan musik dalam kotak elektronik.


Syarief H. kini tinggal di Cibeber Cianjur

Minggu, 20 Desember 2009

carita pondok


Yuli
ku Syarief Hidayat
Ngaranna Yuli. Teuing asa ku anéh, saprak kuring wanoh jeung manéhna naha maké bet dingaranan Yuli, padahal kuring ningali data dina administrasi KKN(Kuliah kerja nyata) téh manéhna lahir bulan agustus. Lamun lahirna bulan agustus anu pantes keur awéwé sahanya? Ngaran Yuli pantesna keur anu lahir bulan Juli. Jeung deui lamun keukeuh hayang mawa bulan agustus kanu ngaranna,…. Agustiningsih, alus ogé. Nya alus ! atuh éta ngaran téh ngaran babaturan kuring basa kuring sakola kénéh di SMP Negeri 39 Bandung, jalan Holis no. 439 Bandung.
Kuring masih diuk di salah sahiji tempat diuk nu aya di Partere nyanghareup hiji patung budak leutik keur manggul mangkok gédé ku tiluan. Cai balong hareupeun kuring warna alus oge ? Beda jeung balong anu aya di béh luhur. Kuring diuk sila, na leungeun kuring buku panganteur estetika dibuka dina kaca 10. Rada lieur ogé, maca ngeunaan éstétika. Nyarita kaéndahan bari jeung barangna can tangtu aya, najan aya ngan saukur gambar-gambar anu ku kuring jarang kaharti naon maksud éta gambar. Tapi lamun keur budak seni rupa sigana nyarita éstétika nyambung ogé.
Yuli angger dina tempat anu tadi, cicing, bangun anu bingun, kaciri dina beungeutna, sakali-kali maca surat atawa buku jeung deui asa siga anu nungguan lalaki. Sahanya lalaki anu ditungguanna ? Kuring ngahaja teu nyampeurkeun padahal na jero haté kuring hayang pisan nyampeurkeun ka manehna, tapi asa éra. Soalna euweuh picaritaeun. Jeung deui palaur ngaganggu ka manéhna. Panon poé méré hawa haneut ka sabundeureun Partere lir lampu lima watt di hij kandang hayam méré hawa haneut komo deui komo lamun peuting. Kuring oge kabagéan haneutna panon poé.
Kuring sorangan jadi panasaran. KKN geus kaliwat sababaraha minggu, tapi lantaran ayeuna manéhna aya di hareupeun kuring sok asa nineung keur KKN. Kulitna bodas lir kembang tahu anu unggal isuk-isuk minggu sok dijadikeun sarapan kuring, matana sipit tapi teu siga urang jepang, buukna leumpeung jeung deui katingalina rada heuras kawas sapu injuk.
Hawa Partere jam salapanan bangun anu nikmat, kabayang lamun unggal poé dosén euweuh ehm ngeunah meureun ! tapi iraha kuring rék kuliahna, ari dosénna gé tara hadirna waé mah. Tangkal caringin anu gedé di tukangeun kuring lir indung méré katengtreman ka sing saha waé jalma anu hayang néangan katenangan di Partere.
Euh, haus ogé. Yuli ngaluarkeun téhkotak dina kantong SophieMartinna jeung dahareun anu lianna. Katingali aya kiripik sampeu dibungkus palastik. Euh beuteung kukurubukan. Di béh kénca na torowongan Partere bring bijil mahasiswa-mahasiswa ngabring rék ka Ledengkeun. Aya kana belasanana mahasiswa anu ngaliwat téh, Yuli kakuat teu kaciri. Mahasiswa anu laliwat geus euweuh, tapi maké aya awéwé siga jalu gek diuk digigireun Yuli. Geulis ogé, jangkungna sapantar jeung Yuli. Ngan palebah buukna ieu mah pondok. Ningali buuk na siga vokalis Rolling Stone, Mick Jagger. Calanana lepis belel ngatung deui, sapatuna Converse klasik geus rada goréng. Manéhna maké kaos rada ngetat. Na dada aya gambar létah keur ngelél. Matakna kuring jol inget ka Mick Jagger ogé pédah wé aya gambar létah. Sahanya? Babaturanana lainnya? Ehmm geulis ogé?
Beungeut Yuli bangun anu bungah beda jeung tadi. Yuli ngaluarkeun téhkotak deui na kantong SophieMartinna. Euh coba lamun kuring anu ti tatadi aya di dieu, langsung ka manéhna moal burung dibéré téhkotak, mangkaning tikoro asa hanaang.

Rada anéh jeung deui teu asup akal ! naha éta leungeun bet bisa silih cagap jeung deui asa euweuh watesan. Ké..ké… eta kaayaan kitu siga awéwé jeung lalaki. Tapi apan da ieu mah awéwé jeung awéwé? Kuring bingung ogé! Uuhhhh hareudang !!! uluh maké jeung silih huap kiripik sampeu sagala ! naha enya ieu si Yuli téh resep ka sasamana,ah teu percaya ! tapi kuring sorangan anu nyaksianana ku sirah jeung panon sorangan. Tiis ceuli, hérang mata. Yuli ka kuat tiis kitu sawareh jalma ningalikeun kalakuan babaturan kuring.
Asa teu kudu kitu , jeung deui … aduh éta rék ka mana si Yuli maké pa kaléng-kaléng sagala rupa pikahariwangeun waé.
Yuli jeung hiji awéwé anu ku kuring teu apal ngaranna ninggalkeun Partere. Ayeuna kuring masih diuk, na ingetan napak tanda tanya anu gedé. Manglebarkeun awéwé sakitu geulisna kudu...

Pasirkoja, Séptémber2005







Jumat, 18 Desember 2009

Carita Pondok



runtah#
ku Syarief Hidayat

Saméméh manéh, kuring. Sanggeus aing, sia. Anu ti heula manggihan éta runtah. Tah paling gé isuk geus diduruk tur moal nyésa. Entong....tong diduruk. Éta mah barang bukti. Najan manéhna runtah tapi naha unggal peuting sok aya anu ngahaja mungkus éta runtah téh ku kanyaah. Najan kanyaah nu saléwat, tapi keur manéhna mah éta rizki ti gusti. Manéhna téh runtah anu mangkal unggal peuting di daérah stasion. Cek saha kuring runtah. Kuring mah awéwé. Tur ieu geus matuh jadi pagawéan kuring. Mun teu kieu...saha nu rék méré rizki ka kuring. Mun teu kieu naha éta rizki rék murag kitu waé ti langit. Keun baé kuring ayeuna kieu tapi isuk jaganing pagéto ehmm gusti tong nepi ka anak incu kuring ngalaman hirup di jalan. Keun kuring anu ngalaman peurihna néang duit. Cadu anak incu kuring kudu turutan turun ka jalan caran kuring. Tah..runtah...kuring téh runtah... naha maké bet harayang diambeu. Tuluy maké daratang deui ka dieu. Mun enya kuring runtah, tangtu anu ngaranna runtah geus euweuh guna jeung mangpaat. Najan aya mangpaat sup ka tukang loak. Tah runtah.. kuring lain runtah.. kuring jalma. Sarua caran batur. Boga kahayang anu gedé. Najan éta kahayang sok pagedruk jeung kaayaan. Tah ayeuna kuring rék ngalayanan heula tamu, pan tamu téh lain sémah. Tapi kudu ditata sareng dijamu. Kè anjeun masih kènèh rèk nganggap kuring tèh runtah. Kè heula, naha makè anjeun mikiran kana pasualan hirup kami. Yeuh kami mah geus boga galur nu ngagurat. Kahirupan kuring moal nenggar kana kahirupan batur. Naon kami anu sok ngarusak rumah tangga batur. Atuh èta mah bongan salaki di dinya nu tara dibèrè napkah nu cukup tur nedunan sunah nabi tèh kudu nu pasti. Dina lebah dieu kuring rada kasinggung, alatan enya kuring sok meunang bangbaluh nu samodèl kitu. Enya kuring sok sarè jeung lalaki anu boga alesan yèn pamajikanana geus kolot tur geus teu ngeunah dipakè. Tah palebah dieu naha rèk dijawab ku saha? Mun kuring angger nu meunang kasalah keun baè. Èmang kuring geus kudu kieu ayana. Hirup kuring pinuh ku napsu lalaki-lalaki anu teu ngeunah dahar satè di imahna. Alatan manèhna meuli satè di jalan tèh èta wè mumul ngurus jeung maraban di imah nu anyar. Enya mun manèhna nyaan hayang nyunnah nabi. Naha atuh henteu kawin, jalan kawin, hiji jalan anu pangalusna. Matak manèhna ngan ukur bisa meuli, daripada kudu bèak sagalana. Masih kènèh medar kuring tèh runtah. Enya kuring ayeuna ngaku yèn kuring runtah. Tapi hirup kuring moal tuluy siga kieu. Jalan anu ku kuring keur dilakonan tèh keun ieu jalan kuring sorangan. Batur teu kudu riweuh mikiran kuring, kuring boga jalan sorangan. Unggal peuting, geus jadi peuting anu bener-bener pinuh ku mangpaat pikeun usaha. Peuting keur ku kuring, waktuna usaha. Teu sieun angin ngagelebug gedè. Kuring moal bisa ngalèwatkeun hiji peuting gè moal...moal diliwatkeun. Peuting isuk kuring teu apal rèk kumaha, kitu ogè peuting ayeuna. Naha masih kènèh loba lalaki anu ngahaja kuring teu apal, kuring lain tukang ramal kuring teu bisa mastikeun. Nu puguh mah kuring ayeuna rèk usaha keur ngebulkeun dapur kuring. Kahirupan kuring sarua jeung batur, euweuh bèdana. Kahirupan kuring kahirupan jeung hawa peuting anu pinuh ku napsu saliwat. Lain kanyaah anu bener-bener ku kuring dianti-anti. Nyaan ieu mah ngan saukur napsu jeung napsu. Napsu nu geus dibeuli ku harta, nu bakal mangpaat keur kuring. Ceuk saha keur kuring ungkul, keur batur kuring aya mangpaatna. Pikeun lalaki anu nunggara sorangan kuring tèh batur manèhna. Najan saliwat, èta geus jadi pagawèan anu netep keur kuring. Sakapeung kuring cicing mikiran hirup kirung nu èndah. Na pikiran kuring lain runtah. Kuring gè jalma siga batur, nu pagawèanana ngawadahan napsu lalaki nu teu kacomponan di imahna. Teuing kuring teu paduli alesanana naon, anu penting mah kuring geus nulungan manèhna unggal peuting. Teu kaitung sabaraha ratus lalaki anu geus ngasaan amis jeung gurihna daging awèwè kuring. Malah nepika ka ayeuna kuring geus boga langganan TNI. Manèhna tugas di Bandung. Kuring teu apal pangkatna, nu puguh mah manèhna sok mèrè duit loba ka kuring. Kadang manèhna sok nepi ka subuh, nepi ka kuring teu bisa nyèsakeun keur batur. Kuring sorangan sok bungah lantaran teu gunta-ganti lalaki, jeung deui ngudag bayaran anu ku manèhna dibèrè manèhna bisa dibandingkeun jeung opat kalieun langganan biasa. Ayeuna tanggung bulan paling gè manèhna sok ka dieu kè awal-awal bulan. Geus rada peuting karèk hiji lalaki nu geus mèrè kanyaah nu ngan ukur saliwat, nu moal pegat nepi ka iraha gè. Lantaran ieu gurat hirup kuring, hirup di jalan narima napsu lalaki-lalaki balangsak.

Carita Pondok


Cangkir SténlesRata Penuhku Syarief Hidayat

Anu aya na pikiran kuring can tangtu aya na pikiranana, tapi manéhna geus asup kana rangkay pikiran kuring. Léngkah jam, léngkahna kuring ngudag kahayang. Na pikiran kuring lir cai nu ngagolak, panas..! Komo deui mun éta cai dikeukeub, ditutup, dipendet, ditulakan, dikonci caran panto....ehm hareudang panas kacida matak ngésang saawak-awak. Kitu deui nu aya na pikiran kuring ayeuna. Aya hiji kahariwang anu nyumput tur éta kahariwang téh maké jeung ngahalangan kuring pikeun ngaléngkah. Jadi beurat ngaléngkah téh, émang enya, nyaan. Sakapeung mah éta kahariwang les ngaleungit, sakapeung jol datang deui. Naha ieu guratan carita nu datang ti Gusti keur kuring poé ayeuna, atawa ieu mangrupa tuluyan anu baheula. Na haté kuring embung aya nu disumputkeun. Malah kuring sok tara meunang jawaban, nalika kuring nanya ka diri sorangan.
Hawa peuting geus karasa kana kulit saawak-awak. Hawa tiis mawa tingtrim kaayaan di kamar. Éta pikiran keukeuh mumul mangkat na pikiran. Na naon ngeunahna ngajedog na pikiran kuring, malah ku kuring ayeuna dipikangéwa, dipikageuleuh, rujit tur rungsing kuring mikiranana. Mun enya éta barang anu bau, bauna kabina-bina. Malah runtah gé asa teu bau-bau teuing. Mending ngukut runtah, dikumpulkeun tur dipalastikan dina mangsana geus pinuh, lung dialungkeung ka wadah runtah atawa ka susukan. Ah.... da nu aya na pikiran kuring lain barang, najan kuring geus nganggap éta siga runtah, tapi éta runtah naha teu pinuh-pinuh. Malah beuki nambahan.
Tina kutrat-kotrét tadi beurang can kénéh diketik. Masih aya di luhureun méja jati di luar. Kamari pisan poé minggu kuring nganteurkeun manéhna. Pas balik ti jalan Ganésa, ti acara Pasar Seni, kuring nganteurkeun nepi ka terminal Leuwi Panjang. Manéhna rék mulang ka Cianjur. Na angkot kuring keukeuh nempokeun kumaha kuring sono ka manéhna anu geus lila teu panggih. Aya kana genep bulanna Sépti, teu ulin ka Bandung. Kamari minggu kaparengan wé manéhna kanu hajatan lanceukna di Cijerah. Sanggeus kuring nganteur, ku kuring diajak ka Pasar Seni. Kahariwangan kuring beuki beukah, nalika panon poé geus mulang ti heula. Harita hujan. Hujan nu munggaran dibulan séptémber. Harita ngahaja ké geus raat hujan manéhna rék mulang. Ah da ngan ukur naék beus, tuluy turun pas hareupeun imahna. Jadi kuring teu kudu nganteurkeun ka Cianjur. Salila dijalan manéhna teu eureun ngasms kuring. Sépti awéwé anu mawa kuring kana lawang kahirupan anu sabenerna. Caah kanyaah anu salila ieu aya di kuring maseuhan awak manéhna. Sépti kuliah di Unsur Cianjur, ayeuna karék seméter dua. Sépti muka hiji kanyataan yén enya Gusti mah adil. Awéwé anu kamari kungsi bareng jeung kuring ayeuna geus teu diharepkeun deui. Boh kanyaahna boh rasana cintana.
Ayeuna geus jam salapan leuwih, na méja cangkir sténles maturan kuring muka lawang peuting. Hirup kuring hayang siga cangkir nu aya di hareupeun kuring. Nyaan kuring jadi inget deui ka manéhna, anu geus méré kuring hiji pangalaman anu teu bisa dihapus na haté kuring. Saacan kuring jeung Sépti kuring keukeuh hayang ngajadikeun manéhna batur hirup kuring di dunya, tapi buktina kieu ayana kuring moal maksa. Malah mun dipaksa gé moal matak hadé kalakah goréng. Awak kuring siga gelas, mun ka badug murag nya peupeus. Tapi ké heula ayeuna kuring jadi cangkir sténles. Malah kuring hayang dibantingkeun sagala. Mun téa mah kuring kabaseuhan tuluy kagaringan kuring moal karatan, lantaran kuring sténles. Enya kuring ayeuna cangkir sténles, Sépti cientéhna.

Rabu, 16 Desember 2009

artikel#

Silsilah Raja-raja Sunda
  1. Salakanagara - dengan ibukota di Teluk Lada Pandeglang (Rajatapura)
  2. Tarumanagara - dengan ibukota di Bekasi (Tarumanagara) & Bogor (Sundapura)
  3. Sunda Galuh - dengan ibukota di Bogor (Pakuan); Kuningan (Saunggalah); Ciamis (Kawali)
  4. Pajajaran - dengan ibukota di Bogor (Pakuan)
  5. alakanagara

Rajatapura atau Salakanagara (Kota Perak) tercantum dalam Naskah Wangsakerta sebagai kota tertua di Pulau Jawa. Tokoh awal yang berkuasa di sini adalah Aki Tirem. Konon, kota inilah yang disebut Argyre oleh Ptolemeus dalam tahun 150 M, terletak di daerah Teluk Lada Pandeglang. Kota ini sampai tahun 362 M menjadi pusat pemerintahan Raja-Raja Dewawarman (dari Dewawarman I - VIII).

Jayasingawarman pendiri Tarumanagara adalah menantu Raja Dewawarman VIII. Ia sendiri seorang Maharesi dari Salankayana di India yang mengungsi ke Nusantara karena daerahnya diserang dan ditaklukkan Maharaja Samudragupta dari Kerajaan Magada.
Tarumanagara

Berikut adalah raja-raja Tarumanagara:

1. Jayasingawarman (358 - 382) Jayasingawarman pendiri Tarumanagara adalah menantu Raja Dewawarman VIII. Ia sendiri seorang Maharesi dari SALANKAYANA di India yang mengungsi ke Nusantara karena daerahnya diserang dan ditaklukkan Maharaja Samudragupta dari Kerajaan Magada. Setelah Jayasingawarman mendirikan Tarumanagara, pusat pemerintahan beralih dari Rajatapura ke Tarumangara. Salakanagara kemudian berubah menjadi Kerajaan Daerah. Jayasingawarman dipusarakan di tepi kali Gomati (Bekasi).
2. Dharmayawarman (382 - 395 M) Dipusarakan di tepi kali Candrabaga.
3. Purnawarman (395 - 434 M) Ia membangun ibukota kerajaan baru dalam tahun 397 yang terletak lebih dekat ke pantai dan dinamainya "Sundapura". Nama Sunda mulai digunakan oleh Maharaja Purnawarman dalam tahun 397 M untuk menyebut ibukota kerajaan yang didirikannya. Pustaka Nusantara,parwa II sarga 3 (halaman 159 - 162) menyebutkan bahwa di bawah kekuasaan Purnawarman terdapat 48 raja daerah yang membentang dari Salakanagara atau Rajatapura (di daerah Teluk Lada Pandeglang) sampai ke Purwalingga (sekarang Purbalingga?) di Jawa Tengah. Secara tradisional Ci Pamali (Kali Brebes) memang dianggap batas kekuasaan raja-raja penguasa Jawa Barat pada masa silam.
4. Wisnuwarman (434-455)
5. Indrawarman (455-515)
6. Candrawarman (515-535 M)
7. Suryawarman (535 - 561 M) Suryawarman tidak hanya melanjutkan kebijakan politik ayahnya yang memberikan kepercayaan lebih banyak kepada raja daerah untuk mengurus pemerintahan sendiri, melainkan juga mengalihkan perhatiannya ke daerah bagian timur. Dalam tahun 526 M, misalnya, Manikmaya, menantu Suryawarman, mendirikan kerajaan baru di Kendan, daerah Nagreg antara Bandung dan Limbangan, Garut. Sedangkan putera Manikmaya, tinggal bersama kakeknya di ibukota Tarumangara dan kemudian menjadi Panglima Angkatan Perang Tarumanagara. Perkembangan daerah timur menjadi lebih berkembang ketika cicit Manikmaya mendirikan Kerajaan Galuh dalam tahun 612 M.
8. Kertawarman (561-628)
9. Sudhawarman (628-639)
10. Hariwangsawarman (639-640)
11. Nagajayawarman (640-666)
12. Linggawarman (666-669) Tarumanagara sendiri hanya mengalami masa pemerintahan 12 orang raja. Dalam tahun 669, Linggawarman, raja Tarumanagara terakhir, digantikan menantunya, Tarusbawa. Linggawarman sendiri mempunyai dua orang puteri, yang sulung bernama Manasih menjadi istri Tarusbawa dan yang kedua bernama Sobakancana menjadi isteri Dapuntahyang Sri Jayanasa pendiri Kerajaan Sriwijaya.
13. TARUSBAWA (669 – 723 M) Tarusbawa yang berasal dari Kerajaan Sunda Sambawa menggantikan mertuanya menjadi penguasa Tarumanagara yang ke-13. Karena pamor Tarumanagara pada zamannya sudah sangat menurun, ia ingin mengembalikan keharuman zaman Purnawarman yang berkedudukan di purasaba (ibukota) Sundapura. Dalam tahun 670 ia mengganti nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda. Peristiwa ini dijadikan alasan oleh Wretikandayun, cicit Manikmaya, untuk memisahkan Kerajaan Galuh dari kekuasaan Tarusbawa. Karena Putera Mahkota Galuh (SENA or SANNA) berjodoh dengan Sanaha puteri Maharani Sima dari Kerajaan Kalingga, Jepara, Jawa Tengah, maka dengan dukungan Kalingga, Wretikandayun menuntut kepada Tarusbawa supaya bekas kawasan Tarumanagara dipecah dua. Dalam posisi lemah dan ingin menghindarkan perang saudara, Tarusbawa menerima tuntutan Galuh. Dalam tahun 670 M Kawasan Tarumanagara dipecah menjadi dua kerajaan, yaitu: Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh dengan Citarum sebagai batas.

Kerajaan Sunda Galuh

Berikut adalah raja-raja Sunda Galuh:

1. TARUSBAWA (670 – 723 M) Maharaja Tarusbawa kemudian mendirikan ibukota kerajaan yang baru, di daerah pedalaman dekat hulu Cipakancilan. Dalam cerita Parahiyangan, tokoh Tarusbawa ini hanya disebut dengan gelarnya: Tohaan di Sunda (Raja Sunda). Ia menjadi cikalbakal raja-raja Sunda dan memerintah sampai tahun 723 M. Karena putera mahkota wafat mendahului Tarusbawa, maka anak wanita dari putera mahkota (bernama Tejakancana) diangkat sebagai anak dan ahli waris kerajaan.Suami puteri inilah yang dalam tahun 723 menggantikan Tarusbawa menjadi Raja Sunda.
2. Sanjaya / Rakeyan Jamri / Prabu Harisdama (723 – 732M) Cicit Wretikandayun ini bernama Rakeyan Jamri. Sebagai penguasa Kerajaan Sunda ia dikenal dengan nama Prabu Harisdarma dan kemudian setelah menguasai Kerajaan Galuh ia lebih dikenal dengan Sanjaya. Ibu dari Sanjaya adalah SANAHA, cucu Maharani SIMA dari Kalingga, di Jepara. Ayah dari Sanjaya adalah Bratasenawa / SENA / SANNA, Raja Galuh ketiga, teman dekat Tarusbawa. Sena adalah cucu Wretikandayun dari putera bungsunya, Mandiminyak, raja Galuh kedua (702-709 M). Sena di tahun 716 M dikudeta dari tahta Galuh oleh PURBASORA. Purbasora dan Sena sebenarnya adalah saudara satu ibu, tapi lain ayah. Sena dan keluarganya menyelamatkan diri ke Pakuan, pusat Kerajaan Sunda, dan meminta pertolongan pada Tarusbawa. Ironis sekali memang, Wretikandayun, kakek Sena, sebelumnya menuntut Tarusbawa untuk memisahkan Kerajaan Galuh dari Tarumanegara / Kerajaan Sunda.Dikemudian hari, Sanjaya yang merupakan penerus Kerajaan Galuh yang sah, menyerang Galuh, dengan bantuan Tarusbawa, untuk melengserkan Purbasora. Setelah itu ia menjadi Raja Kerajaan Sunda Galuh. Sebagai ahli waris Kalingga, SANJAYA kemudian menjadi penguasa Kalingga Utara yang disebut Bumi MATARAM dalam tahun 732 M. Dengan kata lain, Sanjaya adalah penguasa Sunda, Galuh dan Kalingga / Kerajaan Mataram (Hindu). Kekuasaan di Jawa Barat diserahkannya kepada puteranya dari Tejakencana, yaitu Tamperan atau Rakeyan Panaraban.
3. Tamperan Barmawijaya / Rakeyan Panaraban (732 - 739 M) Ia adalah kakak seayah Rakai Panangkaran, Raja Kerajaan Mataram (Hindu) ke 2, putera Sanjaya dari Sudiwara puteri Dewasinga Raja Kalingga Selatan atau Bumi SAMBARA.
4. Rakeyan Banga (739-766 M).
5. Rakeyan Medang Prabu Hulukujang (766-783 M).
6. Prabu Gilingwesi, menantu no. 5,(783-795 M).
7. Pucukbumi Darmeswara, menantu no. 6, (795-819 M).
8. Prabu Gajah Kulon Rakeyan Wuwus (819-891 M).
9. Prabu Darmaraksa (adik-ipar no. 8, 891 - 895 M).
10. Windusakti Prabu Dewageng (895 - 913 M).
11. Rakeyan Kemuning Gading Prabu Pucukwesi (913-916 M).
12. Rakeyan Jayagiri Prabu Wanayasa, menantu no. 11, (916-942 M).
13. Prabu Resi Atmayadarma Hariwangsa (942-954 M).
14. Limbur Kancana,putera no. 11,(954-964 M).
15. Prabu Munding Ganawirya (964-973 M).
16. Prabu Jayagiri Rakeyan Wulung Gadung (973 - 989 M).
17. Prabu Brajawisesa (989-1012 M).
18. Prabu Dewa Sanghyang (1012-1019M).
19. Prabu Sanghyang Ageng (1019 - 1030 M), berkedudukan di Galuh.
20. Prabu Detya Maharaja Sri Jayabupati (1030‚ - 1042 M ), berkedudukan di Pakuan. Pada masa itu Sriwijaya / orang Melayu menjadi momok yang menakutkan. Kerajaan Sunda Galuh untuk menghindari konflik dengan Sriwijaya, melakukan hubungan pernikahan antara raja ke 19, Prabu Sanghyang Ageng (Ayah dari Sri Jayabupati) dengan putri Sriwijaya. Jadi ibu Sri Jayabupati adalah seorang puteri Sriwijaya dan masih kerabat dekat Raja WURAWURI. Permaisuri Sri Jayabupati adalah puteri Dharmawangsa (adik Dewi LAKSMI isteri AIRLANGGA). Karena pernikahan tersebut Jayabupati mendapat anugerah gelar dari mertuanya (DHARMAWANGSA). Gelar itulah yang dicantumkannya dalam Prasasti Cibadak. Raja Sri Jayabupati pernah mengalami peristiwa tragis. Dalam kedudukannya sebagai Putera Mahkota Sunda keturunan Sriwijaya dan menantu Darmawangsa, ia harus menyaksikan permusuhan yang makin menjadi-jadi antara Sriwijaya dengan mertuanya (Dharmawangsa). Pada puncak krisis ia hanya menjadi 'penonton' dan terpaksa tinggal diam dalam kekecewaan karena harus 'menyaksikan' Darmawangsa diserang dan dibinasakan oleh raja Wurawuri atas dukungan Sriwijaya. Ia diberi tahu akan terjadinya serbuan itu oleh pihak Sriwijaya, akan tetapi ia dan ayahnya 'diancam' agar bersikap netral dalam hal ini. Serangan Wurawuri yang dalam Prasasti Calcuta disebut Pralaya itu terjadi tahun 1019 M. Sriwijaya sendiri musnah di tahun 1025 karena serangan Kerajaan Chola dari India. Tahun 1088, Kerajaan Melayu Jambi, menaklukan Sriwijaya, dan berkuasa selama dua ratus tahun. Dua abad kemudian, kedua kerajaan tersebut menjadi taklukan kerajaan Singhasari di era Raja Kertanegara, dengan mengirimkan Senopati Mahisa / Kebo / Lembu ANABRANG, dalam ekspedisi PAMALAYU 1 dan 2, dengan pertimbangan untuk mengamankan jalur pelayaran di selat Malaka yang sangat rawan Bajak Laut setelah runtuhnya Sriwijaya di tahun 1025. Mahisa Anabrang yang menikah dengan DARA JINGGA (anak dari Raja Kerajaan Melayu Jambi, MAULIWARMADHEWA), adalah ayah dari Adityawarman, pendiri Kerajaan Pagaruyung. Dara Jingga dikenal juga sebagai BUNDO KANDUANG dalam hikayat Kerajaan Pagaruyung atau Minangkabau. Mungkin istilah MINANG-KABAU berasal dari adanya KEBO (KEBO / Mahisa / Lembu ANABRANG) yang me-MINANG putri Raja Kerajaan Dharmasraya / Kerajaan Melayu Jambi.
21. Raja Sunda ke 21 berkedudukan di Galuh
22. Raja Sunda ke 22 berkedudukan di Pakuan
23. Raja Sunda ke 23 berkedudukan di Pakuan
24. Raja Sunda ke-24 memerintah di Galuh
25. PRABU GURU DHARMASIKSA, mula-mula berkedudukan di Saunggalah, kemudian pindah ke Pakuan. Beliau mempersiapkan RAKEYAN JAYADARMA, berkedudukan di Pakuan sebagai PUTRA MAHKOTA. Menurut PUSTAKA RAJYARAJYA i BHUMI NUSANTARA parwa II sarga 3: RAKEYAN JAYADARMA adalah menantu MAHISA CAMPAKA di Jawa Timur karena ia berjodoh dengan putrinya MAHISA CAMPAKA bernama DYAH LEMBU TAL. Mahisa Campaka adalah anak dari MAHISA WONGATELENG, yang merupakan anak dari KEN ANGROK dan KEN DEDES dari kerajaan SINGHASARI. Rakeyan Jayadarma dan Dyah Lembu Tal berputera SANG NARARYA SANGGRAMAWIJAYA atau lebih dikenal dengan nama RADEN WIJAYA (lahir di PAKUAN). Dengan kata lain, Raden Wijaya adalah turunan ke 4 dari Ken Angrok dan Ken Dedes. Rakeyan Jayadarma mati dalam usia muda sebelum dilantik menjadi raja. Konon beliau diracun oleh saudara kandungnya sendiri. Akibatnya Dyah Lembu Tal tidak bersedia tinggal lebih lama di Pakuan, karena khawatir dengan keselamatan dirinya dan anaknya. Akhirnya Wijaya dan ibunya diantarkan ke Jawa Timur. Dalam BABAD TANAH JAWI, Wijaya disebut pula JAKA SUSURUH dari PAJAJARAN yang kemudian menjadi Raja MAJAPAHIT yang pertama. Kematian Jayadarma mengosongkan kedudukan putera mahkota karena Wijaya berada di Jawa Timur. Jadi, sebenarnya, RADEN WIJAYA, Raja MAJAPAHIT pertama, adalah penerus sah dari tahta Kerajaan Sunda yang ke-26.
26. Prabu Ragasuci (1297 – 1303M) berkedudukan di Saunggalah dan dipusarakan di Taman, Ciamis. Ragasuci sebenarnya bukan putera mahkota karena kedudukanya itu dijabat kakaknya RAKEYAN JAYADARMA. Permaisuri Ragasuci adalah DARA PUSPA (Puteri Kerajaan Melayu) adik DARA KENCANA isteri KERTANEGARA, dari kerajaan SINGHASARI di Jawa Timur.
27. Prabu Citraganda (1303 – 1311 M), berkedudukan di Pakuan. Ketika wafat ia dipusarakan di Tanjung.
28. Prabu Lingga Dewata (1311 – 1333), berkedudukan di Kawali.
29. Prabu Ajiguna Wisesa (1333 - 1340), berkedudukan di Kawali, adalah menantu Prabu Lingga Dewata. Sampai tahun 1482 pusat pemerintahan tetap berada di sana. Bisa dikatakan bahwa tahun 1333 - 1482 adalah ZAMAN KAWALI dalam sejarah pemerintahan di Jawa Barat dan mengenal 5 orang raja. Lain dengan Galuh, nama Kawali terabadikan dalam dua buah prasasti batu peninggalan PRABU RAJA WASTU yang tersimpan di "ASTANA GEDE" Kawali. Dalam prasasti itu ditegaskan "mangadeg di kuta Kawali" (bertahta di kota Kawali) dan keratonnya disebut SURAWISESA yang dijelaskan sebagai "Dalem sipawindu hurip" (keraton yang memberikan ketenangan hidup).
30. Prabu Maharaja Lingga Buana (1340 – 1357).
31. MANGKUBUMI SURADIPATI atau PRABU BUNISORA, adik Prabu Lingga Buana. Ada yang menyebut PRABU KUDA LALEAN. Dalam BABAD PANJALU (Kerajaan Panjalu Ciamis) disebut PRABU BOROSNGORA. Selain itu ia pun dijuluki BATARA GURU di Jampang karena ia menjadi pertapa dan resi yang ulung).
32. Prabu Raja Wastu atau Niskala Wastu Kancana(1371-1475). Ia adalah anak Prabu Lingga Buana, dinobatkan menjadi raja pada tahun 1371 pada usia 23 tahun. Permaisurinya yang pertama adalah LARA SARKATI puteri Lampung. Dari perkawinan ini lahir SANG HALIWUNGAN (setelah dinobatkan menjadi Raja Sunda bergelar PRABU SUSUKTUNGGAL). Permaisuri yang kedua adalah MAYANGSARI puteri sulung Bunisora atau Mangkubumi Suradipati. Dari perkawinan ini lahir NINGRAT KANCANA (setelah menjadi penguasa Galuh bergelar PRABU DEWA NISKALA). Setelah Wastu Kancana wafat tahun 1475, kerajaan dipecah dua diantara Susuktunggal dan Dewa Niskala dalam kedudukan sederajat. Politik kesatuan wilayah telah membuat jalinan perkawinan antar cucu Wastu Kencana. JAYADEWATA, putera Dewa Niskala mula-mula memperistri AMBETKASIH (puteri KI GEDENG SINDANGKASIH). Kemudian memperistri SUBANGLARANG (puteri KI GEDENG TAPA yang menjadi Raja Singapura). Subanglarang ini keluaran pesantren Pondok QURO di PURA, Karawang. Ia seorang wanita muslim murid SYEKH HASANUDIN yang menganut MAHZAB HANAFI. Pesantren Qura di Karawang didirikan tahun 1416 dalam masa pemerintahan Wastu Kancana. Subanglarang belajar di situ selama 2 tahun. Ia adalah nenek SYARIF HIDAYATULLAH. Kemudian memperistri KENTRING MANIK MAYANG SUNDA puteri Prabu Susuktunggal. Jadilah antara Raja Sunda dan Raja Raja Galuh yang seayah ini menjadi besan. Di tahun 1482, Prabu Dewa Niskala menyerahkan Tahta Kerajaan Galuh kepada puteranya Jayadewata. Demikian pula dengan Prabu Susuktungal yang menyerahkan Tahta Kerajaan Sunda kepada menantunya ini (Jayadewata). Dengan peristiwa yang terjadi tahun 1482 itu, kerajaan warisan Wastu Kencana berada kembali dalam satu tangan. JAYADEWATA memutuskan untuk berkedudukan di Pakuan sebagai "Susuhunan" karena ia telah lama tinggal di sini menjalankan pemerintahan sehari-hari mewakili mertuanya. Sekali lagi Pakuan menjadi pusat pemerintahan. Zaman Pajajaran diawali oleh pemerintahan Ratu Jayadewata yang bergelar Sri Baduga Maharaja yang memerintah selama 39 tahun (1482 - 1521). Pada masa inilah Pakuan mencapai puncak perkembangannya.

Raja-Raja Sunda yang menjadi Raja di Mataram dan Majapahit

Jadi ada dua penerus sah dari tahta KERAJAAN SUNDA yang menjadi raja besar di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

1. Sanjaya / Rakeyan Jamri / Prabu Harisdama, raja ke 2 Kerajaan Sunda-Galuh(723 – 732M), menjadi raja di Kerajaan Mataram (Hindu) (732 - 760M). Ia adalah pendiri Kerajaan Mataram Kuno, dan sekaligus pendiri Wangsa Sanjaya.
2. Raden Wijaya, penerus sah Kerajaan Sunda ke – 26, yang lahir di Pakuan, dan dikemudian hari menjadi Raja Majapahit pertama (1293 – 1309 M).

Pajajaran

Berikut adalah raja-raja Pajajaran:

1. Sri Baduga Maharaja (1482 – 1521), bertahta di Pakuan (Bogor sekarang)
2. Surawisesa (1521 – 1535), bertahta di Pakuan
3. Ratu Dewata (1535 – 1543), bertahta di Pakuan
4. Ratu Sakti (1543 – 1551), bertahta di Pakuan
5. Ratu Nilakendra (1551-1567), meninggalkan Pakuan karena serangan Hasanudin dan anaknya, Maulana Yusuf
6. Raga Mulya (1567 – 1579), dikenal sebagai Prabu Surya Kencana, memerintah dari Pandeglang


Raja-Raja Pajajaran, seperti juga Raja-Raja Singasari, Majapahit, Dharmasraya, dan Pagaruyung periode awal, beserta para pembesarnya adalah pengikut sekte keagamaan Tantra. Sekte Tantra adalah sekte yang melakukan meditasi dengan mempersatukan Yoni dan Lingga. Artinya meditasi dilakukan dengan melakukan hubungan antara laki laki dan perempuan.


Berakhirnya zaman Pajajaran (1482 - 1579), ditandai dengan diboyongnya PALANGKA SRIMAN SRIWACANA (Tempat duduk tempat penobatan tahta) dari Pakuan ke Surasowan di Banten oleh pasukan Maulana Yusuf. Batu berukuran 200 x 160 x 20 cm itu terpaksa di boyong ke Banten karena tradisi politik waktu itu "mengharuskan" demikian.

Pertama, dengan dirampasnya Palangka tersebut, di Pakuan tidak mungkin lagi dinobatkan raja baru.

Kedua, dengan memiliki Palangka itu, Maulana Yusuf merupakan penerus kekuasaan Pajajaran yang "sah" karena buyut perempuannya adalah puteri Sri Baduga Maharaja.

Palangka Sriman Sriwacana sendiri saat ini bisa ditemukan di depan bekas Keraton Surasowan di Banten. Karena mengkilap, orang Banten menyebutnya WATU GIGILANG. Kata Gigilang berarti mengkilap atau berseri, sama artinya dengan kata Sriman.
Inilah silsilah raja-raja Sunda....wilujeng maos....cag!

Selasa, 15 Desember 2009

artikel#


Sejarah Cianjur

Sebut saja sejarah, berasal dari bahasa Arab yang artinya cabang dari pohon. Mungkin dari sini kita akan mengambil suatu pelajaran yang sangat penting. Ok buat anak-anak pecinta zine di mana pun kalian berada walaupun saya sedang tidak enak badan tapi tetap ingin menulis...selamat membaca...

Sejarah Kabupaten Cianjur sangat sedikit diketahui, akan tetapi menurut cerita-cerita dari orang tua, daerah Kabupaten Cianjur dahulunya adalah termasuk kedalam wilayah Kerajaan Pajajaran.
Hal ini dapat dilihat dari banyaknya kepercayaan masyarakat Cianjur yang sama dengan masyarakat pada jaman kerajaan pajajaran yang banyak mengenal kebudayaan hindu.

Asal usul Kabupaten Cianjur diketahui setelah masuk pengaruh Islam ke Cianjur dari Kesultanan Banten kira-kira abad XV.
Bupati pertama Cianjur bernama Wiratanu I yang memerintah kira-kira abad XVII berpusat di Cikidul-Cikalong Kulon 20km sebelah utara Kabupaten Cianjur sekarang. Kemudian dipindahkan oleh Bupati Wiratanu II ke tepi sungai dan jalan raya yang telah dibuat oleh Daendels antara Anyer – Panarukan yaitu Kota Cianjur sekarang.

Kota Cianjur menjadi Kota Keresidenan Priangan pada masa Raden Kusumah Diningrat dengan wilayah meliputi Pelabuhan Ratu sebelah barat, Sungai Citanduy dengan barisan Gunung Halimun, Mega Mendung, Tangkuban Perahu sebelah timur, dan Samudra Indonesia sebelah selatan.
Kemudian pada masa Bupati R.A.A Prawiradiredja wilayah Cianjur mengalami perubahan menjadi Cikole sebelah barat, Sukabumi sekarang, Bandung dan Tasikmalaya dengan Ibukota Keresidenan dipindahkan ke Bandung.

Perkebunan karet dan teh merupakan akibat dari sistem tanam paksa (cultur stelsel).
Perkebunan tersebut merupakan tempat hiburan akhir pekan bagi asisten residen dan orang-orang belanda yang tinggal di Cianjur dan cenderung membuat rumah didaerah Cipanas-Puncak.

GEOGRAFIS
Secara Geografis, Kabupaten Cianjur terletak pada 106. 25o -107. 25o Bujur Timur dan 6.21o – 7.32o Lintang Selatan dengan batas-batas administratif :

* Sebelah Utara berbatasan dengan wilayah Kabupaten Bogor dan Kabupaten Purwakarta.
* Sebelah Barat berbatasan dengan wilayah Kabupaten Sukabumi.
* Sebelah Selatan berbatasan dengan Samudra Indonesia.
* Sebelah Timur berbatasan dengan wilayah Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut.

Luas wilayah Kabupaten Cianjur +/- 3.501,48 km2 terbagi dengan ciri topografi sebagian besar berupa daerah pegunungan, berbukit-bukit dan sebagian merupakan dataran rendah, dengan ketinggian 0 s/d 2.962 meter diatas permukaan laut (Puncak Gunung Gede) dengan kemiringan antara 1% s/d 15%.

OBYEK WISATA

1. Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Salahsatu dari 33 Taman Nasional di Indonesia yang memiliki keanekaragaman flora dan fauna dengan luas 15.196 Ha serta ketinggian Gunung Gede 2.958 mdpm dan Pangrango 3.019 mdpm.

Terdapat beberapa kawah ; kawah ratu, wadon, lanang dan baru. Lokasi di Kecamatan Pacet dengan jarak tempuh dari Jakarta sekitar 80km.

2. Kebun Raya Cibodas

Merupakan cagar alam yang memiliki 1001 jenis tanaman kaktus yang berusia lebih dari 100 tahun.

3. Istana Presiden Cipanas

Dibangun pada tahun 1740 oleh warga Belanda bernama Van Heuts diatas tanah 25 Ha. Didalam sekitar istana terdapat suatu bangunan yang dapat dikunjungi yaitu Gedung Bentol yang dulunya pernah dipakai Presiden Soekarno menyusun naskah kemerdekaan RI

4. Taman Bunga Nusantara

Taman seluas 23 Ha beriklim tropis yang benar-benar nyaman dan menyenangkan dengan berbagai jenis bunga dari berbagai negara di Asia, Amerika, Afrika, Australia dan Eropa. Lokasi di desa Kawung Luwuk Kecamatan Sukaresmi dengan jarak tempuh sekitar 90km dari Jakarta.

5. Perkebunan Teh Puncak

Pemandangan dengan latarbelakang kebun teh dapat dilihat di Puncak. Merupakan Agrowisata yang indah, sejuk dan nyaman yang sewaktu-waktu diselimuti kabut. Cocok untuk kegiatan ‘Tea Walk’ dan Terbang Layang.

6. Pusat Belanja Wisata

Sepanjang jalur Puncak-Cianjur terdapat banyak tempat menginap hotel berbintang maupun kelas melati, restoran yang menyajikan aneka ragam makanan khas, factory outlet, souvenir, buah-buahan segar, sayur mayur serta bunga/bonsai.

SENI TRADISIONAL

1. Seni Mamaos Cianjuran

Keistimewaannya adalah lagu-lagunya tidak berpatokan pada birama tertentu, sehingga banyak yang bilang bahwa Seni Cianjuran adalah termasuk Seni Jazz.

2. Kacapi Suling, Jaipongan (Ketuk Tilu) dan Calung

MAKANAN TRADISIONAL

1. Tauco

Makanan khas Cianjur yang berasal dari negeri Cina. Terbuat dari kacang kedelai pilihan, diproses secara tradisional.

Pabrik tauco tertua adalah pabrik tauco cap meong, didirikan tahun 1880 di kota Cianjur.

2. Manisan

BUDAYA TRADISIONAL

1. Pengrajin Sangkar Burung
2. Pengrajin Lampu Kuning
3. Pengrajin Cinderamata Bambu dan Kayu

SENI BELADIRI TRADISIONAL
Pencak Silat / Maenpo

Tiga abad silam merupakan saat bersejarah bagi Cianjur. Karena berdasarkan sumber – sumber tertulis , sejak tahun 1614 daerah Gunung Gede dan Gunung Pangrango ada di bawah Kesultanan Mataram. Tersebutlah sekitar tanggal 12 Juli 1677, Raden Wiratanu putra R.A. Wangsa Goparana Dalem Sagara Herang mengemban tugas untuk mempertahankan daerah Cimapag dari kekuasaan kolonial Belanda yang mulai menanamkan kuku-kunya di tanah nusantara.Upaya Wiratanu untuk mempertahankan daerah ini juga erat kaitannya dengan desakan Belanda / VOC saat itu yang ingin mencoba menjalin kerjasama dengan Sultan Mataram Amangkurat I.

Namun sikap patriotik Amangkurat I yang tidak mau bekerjasama dengan Belanda / VOC mengakibatkan ia harus rela meninggalkan keraton tanggal 12 Juli 1677. Kejadian ini memberi arti bahwa setelah itu Mataram terlepas dari wilayah kekuasaannya.

Pada pertengahan abad ke 17 ada perpindahan rakyat dari Sagara Herang yang mencari tempat baru di pinggir sungai untuk bertani dan bermukim. Babakan atau kampoung mereka dinamakan menurut menurut nama sungai dimana pemukiman itu berada. Seiring dengan itu Raden Djajasasana putra Aria Wangsa Goparana dari Talaga keturunan Sunan Talaga, terpaksa meninggalkan Talaga karena masuk Agama Islam, sedangkan para Sunan Talaga waktu itu masih kuat memeluk agama Hindu.

Sebagaimana daerah beriklim tropis, maka di wilayah Cianjur utara tumbuh subur tanaman sayuran, teh dan tanaman hias. Di wilayah Cianjur Tengah tumbuh dengan baik tanaman padi, kelapa dan buah-buahan. Sedangkan di wilayah Cianjur Selatan tumbuh tanaman palawija, perkebunan teh, karet, aren, cokelat, kelapa serta tanaman buah-buahan. Potensi lain di wilayah Cianjur Selatan antara lain obyek wisata pantai yang masih alami dan menantang investasi.

Aria Wangsa Goparana kemudian mendirikan Nagari Sagara Herang dan menyebarkan Agama Islam ke daerah sekitarnya. Sementara itu Cikundul yang sebelumnya hanyalah merupakan sub nagari menjadi Ibu Nagari tempat pemukiman rakyat Djajasasana. Beberapa tahun sebelum tahun 1680 sub nagari tempat Raden Djajasasana disebut Cianjur (Tsitsanjoer-Tjiandjoer).

Dalem / Bupati Cianjur dari masa ke masa

1. R.A. Wira Tanu I (1677-1691)
2. R.A. Wira Tanu II (1691-1707)
3. R.A. Wira Tanu III (1707-1727)
4. R.A. Wira Tanu Datar IV (1927-1761)
5. R.A. Wira Tanu Datar V (1761-1776)
6. R.A. Wira Tanu Datar VI (1776-1813)
7. R.A.A. Prawiradiredja I (1813-1833)
8. R. Tumenggung Wiranagara (1833-1834)
9. R.A.A. Kusumahningrat (Dalem Pancaniti) (1834-1862)
10. R.A.A. Prawiradiredja II (1862-1910)
11. R. Demang Nata Kusumah (1910-1912)
12. R.A.A. Wiaratanatakusumah (1912-1920)
13. R.A.A. Suriadiningrat (1920-1932)
14. R. Sunarya (1932-1934)
15. R.A.A. Suria Nata Atmadja (1934-1943)
16. R. Adiwikarta (1943-1945)
17. R. Yasin Partadiredja (1945-1945)
18. R. Iyok Mohamad Sirodj (1945-1946)
19. R. Abas Wilagasomantri (1946-1948)
20. R. Ateng Sanusi Natawiyoga (1948-1950)
21. R. Ahmad Suriadikusumah (1950-1952)
22. R. Akhyad Penna (1952-1956)
23. R. Holland Sukmadiningrat (1956-1957)
24. R. Muryani Nataatmadja (1957-1959)
25. R. Asep Adung Purawidjaja (1959-1966)
26. Letkol R. Rakhmat (1966-1966)
27. Letkol Sarmada (1966-1969)
28. R. Gadjali Gandawidura (1969-1970)
29. Drs. H. Ahmad Endang (1970-1978)
30. Ir. H. Adjat Sudrajat Sudirahdja (1978-1983)
31. Ir. H. Arifin Yoesoef (1983-1988)
32. Drs. H. Eddi Soekardi (1988-1966)
33. Drs. H. Harkat Handiamihardja (1996-2001)
34. Ir. H. Wasidi Swastomo, Msi (2001-2006))
35. Drs. H. Tjetjep Muchtar Soleh, MM (2006-2011)

Dan sekarang saya tinggal di Kampung Cisalak Tengah Desa Cisalak Kecamatan Cibeber Cianjur 43262....ok see you next time......wilujeng maos......hurif Sunda..